PT Bank Jago Tbk (ARTO) melaporkan hasil Public Expose Tahunan 2026 kepada Bursa Efek Indonesia. Acara yang digelar 10 September 2026 melalui webinar online itu dihadiri 60 peserta dari kalangan investor, analis, dan masyarakat umum, sementara sesi konferensi pers dihadiri 17 peserta secara virtual. Manajemen yang tampil adalah Direktur Finance & Operations Supranoto Prajogo dan Investor Relations & Market Intelligence Theodore Siregar, yang memaparkan kinerja keuangan per Juni 2026 dan strategi pengembangan usaha.

Dalam sesi tanya jawab, manajemen menyampaikan Bank Jago membidik segmen masyarakat yang belum memiliki rekening bank, mengacu pada proyeksi Lembaga Penjamin Simpanan bahwa 46,5 juta penduduk Indonesia masih unbanked hingga akhir 2026. Strateginya lewat sinergi GoPay Tabungan dan kemitraan penyalur pinjaman. Di lini wealth management, perusahaan mengonfirmasi fitur Kantong Valas dan Jual Beli Emas sudah berjalan, rekening dana nasabah (RDN) Bank Jago kini tersambung ke Pluang untuk transaksi saham luar negeri, dan ke depan disiapkan pula sambungan ke Stockbit. Kerja sama dengan Bibit disebut berjalan tanpa kendala berarti, terutama lewat fitur investasi otomatis dan pencairan cepat.

Manajemen juga menjelaskan perlambatan pertumbuhan jumlah nasabah, yang disebabkan penutupan otomatis rekening tidak aktif bersaldo nol selama 365 hari sesuai aturan OJK, yakni 1,2 juta rekening pada kuartal keempat tahun lalu dan 1,6 juta rekening pada tahun ini. Meski demikian, jumlah nasabah tetap tumbuh positif menjadi 20,1 juta. Perusahaan menyebut anggaran investasi kecerdasan buatan sebesar US$350.000 atau sekitar Rp5 miliar untuk credit scoring, deteksi penipuan, dan chatbot layanan nasabah. Fitur Pocket Dana Siaga yang dirilis 2025 kini memiliki 70.000 pengguna dengan porsi masih kecil dari total portofolio kredit dan kualitas aset yang diklaim terjaga.

Menjawab pertanyaan media, manajemen menegaskan belum ada rencana merger dengan BFI Finance dan opsi itu belum masuk Rencana Bisnis Bank 2026. Biaya dana atau Cost of Fund disebut naik dari sekitar 3,5 persen pada Juni menjadi 3,8 persen pada Agustus 2026, dan diproyeksikan mencapai 4,0 hingga 4,2 persen pada akhir tahun, meski margin bunga bersih diklaim tetap terjaga karena mayoritas kredit berjangka pendek sehingga bunga bisa disesuaikan lebih cepat. Perseroan juga menyatakan belum berencana membagikan dividen untuk tahun buku 2026 karena fokus memperkuat permodalan, dan pembagian dividen baru akan dipertimbangkan dalam 3 sampai 4 tahun ke depan.