PT Atlantis Subsea Indonesia Tbk (ATLA) menyampaikan laporan keuangan interim yang tidak diaudit untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026 kepada Otoritas Jasa Keuangan, sesuai kewajiban pelaporan berkala emiten. Dalam laporan yang ditandatangani Direktur Keuangan Andreas Setiawan itu, perusahaan survei dan jasa teknik untuk perusahaan energi ini mencatat pendapatan Rp37,12 miliar sepanjang sembilan bulan pertama 2026, turun 41,5 persen dibandingkan Rp63,40 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Setelah beban pokok pendapatan dan beban umum serta administrasi yang ikut turun menjadi Rp7,03 miliar, laba usaha tergerus dari Rp3,49 miliar menjadi Rp1,38 miliar. Laba bersih tahun berjalan turun dari Rp2,60 miliar menjadi Rp697,6 juta, membuat laba per saham ikut turun dari Rp0,42 menjadi Rp0,11.

Dari sisi neraca, total aset perusahaan turun tipis dari Rp174,73 miliar pada akhir 2025 menjadi Rp172,03 miliar per 30 September 2026. Penurunan paling mencolok ada pada kas dan setara kas, yang anjlok dari Rp14,57 miliar menjadi Rp2,78 miliar, berkurang Rp11,79 miliar hanya dalam sembilan bulan. Di sisi lain, pos uang muka lancar lainnya justru naik dari Rp43,13 miliar menjadi Rp57,58 miliar, sementara total liabilitas jangka pendek turun tajam dari Rp5,00 miliar menjadi Rp759,1 juta seiring pelunasan utang usaha pihak ketiga dari Rp2,75 miliar menjadi Rp279,4 juta. Selama periode berjalan, perseroan juga membagikan dividen tunai Rp3,5 miliar kepada pemegang saham, sehingga ekuitas tercatat Rp166,23 miliar per akhir September 2026.

Perusahaan yang bergerak di bidang survei bawah laut dan jasa teknik untuk industri energi ini tercatat memiliki 30 karyawan tetap per 30 September 2026, bertambah dari 26 orang pada periode yang sama tahun sebelumnya. Dalam catatan atas laporan keuangan disebutkan pemilik manfaat akhir (ultimate beneficial owner) perusahaan adalah Rudi Reksa Sutantra.