PT Bach Multi Global Tbk (BACH) menyampaikan surat penjelasan kepada Bursa Efek Indonesia terkait perubahan lebih dari 20 persen pada pos total aset dan total liabilitas dalam laporan keuangan interim yang tidak diaudit untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026. Total aset perusahaan tercatat Rp2,32 triliun per akhir September 2026, naik 88,41 persen atau Rp1,09 triliun dari posisi akhir Desember 2025 yang sebesar Rp1,23 triliun. Kenaikan ini terutama berasal dari piutang usaha yang melonjak 188,15 persen atau bertambah Rp449,01 miliar, sejalan dengan meningkatnya penjualan dan penyewaan genset. Persediaan juga naik 91,54 persen atau Rp209,93 miliar untuk persiapan proyek pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) sewa baru, sementara aset tetap bertambah 67,24 persen atau Rp305,22 miliar dari penambahan unit yang disewakan ke pelanggan.
Di sisi liabilitas, total utang BACH naik 99,60 persen menjadi Rp1,39 triliun dari sebelumnya Rp696,68 miliar. Utang usaha bertambah 24,57 persen atau Rp52,99 miliar untuk mendukung pembelian barang dan jasa secara kredit. Kenaikan paling besar berasal dari utang bank yang melonjak 510,23 persen, bertambah Rp512,68 miliar, yang digunakan perusahaan untuk mendukung siklus operasional, persiapan stok, dan ekspansi proyek sewa genset maupun infrastruktur telekomunikasi.
Pada periode yang sama, BACH juga merampungkan penawaran umum perdana (IPO) yang menambah modal disetor penuh perusahaan dengan dana neto Rp259,84 miliar. Jumlah saham beredar bertambah menjadi 4.084.430.000 lembar dengan nilai nominal Rp50 per saham, setelah sebelumnya melakukan pemecahan nilai saham dari 1.734.715 lembar bernilai nominal Rp100.000. Total ekuitas perusahaan naik dari Rp535,95 miliar menjadi Rp931,77 miliar. Pendapatan neto sembilan bulan tercatat Rp1,45 triliun, naik dari Rp1,22 triliun pada periode yang sama tahun lalu, sementara laba periode berjalan naik dari Rp103,58 miliar menjadi Rp136,78 miliar, dengan laba per saham dasar naik dari Rp30 menjadi Rp37.
Di balik pertumbuhan laba, arus kas dari aktivitas operasi BACH justru tercatat defisit Rp400,13 miliar, jauh lebih dalam dibanding defisit Rp16,74 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Penerimaan kas dari pelanggan turun menjadi Rp1,06 triliun, sementara pembayaran kas ke pemasok naik menjadi Rp1,31 triliun. Akibatnya, kas dan setara kas perusahaan di akhir September 2026 turun menjadi Rp10,18 miliar dari Rp11,97 miliar pada akhir Desember 2025.
