PT Bach Multi Global Tbk (BACH) menyampaikan laporan keuangan interim untuk periode enam bulan yang berakhir 30 Juni 2026, yang telah ditelaah secara terbatas oleh KAP Tjahjadi Tamara dengan partner penanggung jawab Riani, dan memperoleh opini wajar tanpa modifikasian. Bersamaan dengan laporan itu, perseroan mengirim surat penjelasan resmi kepada Bursa Efek Indonesia karena total aset dan total liabilitasnya berubah lebih dari 20 persen dibanding akhir 2025, sesuai kewajiban Peraturan I-E BEI.
Total aset BACH naik 56,50 persen, dari Rp1,23 triliun pada akhir 2025 menjadi Rp1,93 triliun pada 30 Juni 2026, atau bertambah Rp696,49 miliar. Perseroan menyebut kenaikan ini didorong oleh peningkatan aktivitas penjualan dan penyewaan genset, dengan piutang usaha bertambah Rp170,44 miliar, persediaan bertambah Rp193,74 miliar untuk persiapan proyek pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) sewa baru, aset tetap bertambah Rp174,13 miliar untuk aset yang disewakan, serta pekerjaan dalam pelaksanaan bertambah Rp115,79 miliar seiring proyek infrastruktur telekomunikasi. Di sisi lain, total liabilitas melonjak lebih tajam, yakni 88,91 persen dari Rp696,68 miliar menjadi Rp1,32 triliun, terutama karena utang usaha naik 125,54 persen atau bertambah Rp270,76 miliar dan utang bank bertambah Rp301,91 miliar atau naik 73,51 persen untuk membiayai stok dan ekspansi proyek sewa.
Dari sisi laba rugi, pendapatan neto BACH naik dari Rp734,18 miliar menjadi Rp897,42 miliar, dan laba bersih naik dari Rp62,02 miliar menjadi Rp77,69 miliar. Namun beban bunga melonjak dari Rp6,63 miliar menjadi Rp19,32 miliar, dan arus kas dari aktivitas operasi justru berbalik menjadi minus Rp84,16 miliar dari sebelumnya positif Rp129,99 miliar, karena penerimaan dari pelanggan sebesar Rp748,91 miliar tidak menutup pembayaran ke pemasok, karyawan, dan pajak. Perseroan juga memecah nilai nominal sahamnya dari Rp100.000 menjadi Rp50 per saham, sehingga jumlah saham beredar naik dari 1.734.715 lembar menjadi 3.469.430.000 lembar tanpa mengubah total modal disetor sebesar Rp173,47 miliar. Ekuitas perseroan naik dari Rp535,95 miliar menjadi Rp613,00 miliar, setelah memperhitungkan pencadangan laba ditahan Rp34,69 miliar sebagai cadangan wajib dan pelepasan satu entitas anak yang mengurangi ekuitas sekitar Rp869 juta.
