PT Bali Towerindo Sentra Tbk. (BALI) memberikan penjelasan kepada Bursa Efek Indonesia setelah sahamnya mengalami lonjakan harga dan aktivitas transaksi yang tidak biasa. Pada penutupan 5 Oktober 2026, harga saham BALI naik Rp330 atau 24,8 persen, dari Rp1.330 menjadi Rp1.660. Volume transaksi pada hari itu juga naik menjadi 27.400 saham dengan 51 kali transaksi, dibandingkan 10.700 saham dengan 43 kali transaksi pada hari bursa sebelumnya. Bursa meminta penjelasan ini melalui surat nomor S-12731/BEI.PP2/10-2026 tertanggal 6 Oktober 2026.

Dalam jawabannya, Corporate Secretary BALI, Lily Hidayat, menyatakan perseroan tidak mengetahui adanya informasi atau fakta material yang belum diungkapkan ke publik maupun ke Bursa yang dapat menjelaskan lonjakan harga tersebut. Perseroan juga mengonfirmasi aktivitas pemegang saham pengendali, PT Kharisma Cipta Towerindo (KCT), yang sebelumnya telah membeli saham BALI dalam dua transaksi: pada 7 September 2026 sebanyak 4.900.000 saham dengan harga Rp1.420 per saham, yang menaikkan kepemilikan KCT dari 59,70 persen menjadi 59,82 persen, dan pada 25 September 2026 sebanyak 5.100.000 saham pada harga yang sama, menaikkan kepemilikan KCT menjadi 59,95 persen. Kedua transaksi itu disebut sudah diumumkan sebelumnya lewat keterbukaan informasi kepemilikan saham.

Perseroan menegaskan tidak memiliki rencana tindakan korporasi apa pun dalam tiga bulan mendatang, termasuk yang dapat berdampak pada status pencatatan sahamnya di Bursa. Setelah dikonfirmasi oleh Corporate Secretary, pemegang saham pengendali juga menyatakan tidak ada rencana lanjutan terkait kepemilikan sahamnya di BALI, maupun transaksi tertentu yang akan dilakukan ke depan.