PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) membukukan laba bersih konsolidasian Rp45,24 triliun untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026, naik 4,2 persen dari Rp43,41 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Dari jumlah itu, laba yang dapat diatribusikan kepada pemegang saham induk tercatat Rp45,22 triliun, sehingga laba bersih per saham dasar dan dilusian naik dari Rp352 menjadi Rp368 per lembar.

Total aset BBCA per akhir September 2026 mencapai Rp1.641,51 triliun, bertambah 3,45 persen dari Rp1.586,83 triliun pada akhir 2025. Penyaluran kredit menjadi pendorong utama, dengan saldo kredit bersih naik 7,24 persen dari Rp940,48 triliun menjadi Rp1.008,55 triliun. Di sisi pendanaan, simpanan nasabah tumbuh 4,21 persen dari Rp1.233,80 triliun menjadi Rp1.285,74 triliun, sementara total ekuitas naik tipis 0,70 persen dari Rp281,69 triliun menjadi Rp283,66 triliun.

Pendapatan bunga dan syariah bersih BBCA naik 1,74 persen menjadi Rp65,06 triliun, didukung pendapatan provisi dan komisi yang melonjak 8,25 persen menjadi Rp15,58 triliun. Beban penyisihan kerugian penurunan nilai aset, yaitu dana yang dicadangkan bank untuk menutup potensi kredit bermasalah, justru turun 21,83 persen dari Rp3,52 triliun menjadi Rp2,75 triliun. Perseroan juga menambah pembelian kembali sahamnya sendiri (treasury stock) dari Rp2,15 triliun menjadi Rp3,46 triliun sepanjang sembilan bulan tersebut. Laporan ini merupakan laporan keuangan interim per 30 September 2026 yang belum diaudit.