PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menyampaikan materi public expose tahunan kepada Bursa Efek Indonesia pada 4 September 2026, sebagai kelanjutan dari pemberitahuan penyelenggaraan public expose yang dikirim perseroan pada 26 Agustus 2026. Keterbukaan informasi ini ditandatangani oleh Corporate Secretary BCA, Rudy Budiardjo, dan memuat paparan kinerja keuangan konsolidasi hingga Juni 2026.

Total aset BCA tercatat Rp1.661 triliun per Juni 2026, naik 10,4 persen dibanding Juni 2025. Penyaluran kredit mencapai Rp1.036 triliun, tumbuh 8,0 persen secara tahunan, sementara dana pihak ketiga naik 7,9 persen menjadi Rp1.284 triliun. Dana murah atau CASA tumbuh lebih cepat, 10,2 persen menjadi Rp1.082 triliun, ditopang giro yang melonjak 15,3 persen menjadi Rp444 triliun, sedangkan deposito berjangka justru turun 2,8 persen menjadi Rp202 triliun. Ekuitas perseroan naik 3,4 persen secara tahunan menjadi Rp270 triliun, meski turun 3,9 persen dibanding akhir 2025.

Dari sisi laba, BCA membukukan laba bersih konsolidasi Rp29,5 triliun pada semester I 2026, naik 1,8 persen dibanding periode sama tahun lalu. Laba operasional sebelum pencadangan (PPOP) naik 2,5 persen menjadi Rp38,4 triliun, ditopang pendapatan komisi dan fee yang tumbuh 11,2 persen menjadi Rp11 triliun. Sejumlah rasio utama justru melemah: margin bunga bersih turun dari 5,8 persen menjadi 5,3 persen, imbal hasil ekuitas (ROE) turun dari 25,2 persen menjadi 24,1 persen, dan rasio kecukupan modal (CAR) turun dari 28,4 persen menjadi 26,8 persen. Di sisi lain, kualitas kredit membaik, dengan rasio kredit bermasalah (NPL) turun dari 2,2 persen menjadi 1,9 persen dan rasio kredit berisiko (LAR) turun dari 5,7 persen menjadi 4,9 persen.

Dari segmen kredit, kredit korporasi tumbuh paling kencang, 13,6 persen menjadi Rp513,4 triliun, terutama ditopang kredit investasi yang naik 21 persen. Sebaliknya, kredit konsumer menyusut 2,4 persen menjadi Rp221 triliun, akibat kredit kendaraan bermotor yang anjlok 21,5 persen, meski kredit pemilikan rumah masih tumbuh 4,8 persen. Pembiayaan syariah tumbuh 20,5 persen menjadi Rp13,6 triliun. Perseroan juga melaporkan portofolio pembiayaan berkelanjutan naik 11,4 persen secara tahunan menjadi Rp267 triliun per Juni 2026.