PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk menyampaikan laporan keuangan interim tidak diaudit untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026 kepada Otoritas Jasa Keuangan pada 27 Oktober 2026, ditandatangani oleh Corporate Secretary Okki Rushartomo sesuai ketentuan POJK Nomor 14/POJK.04/2022 tentang penyampaian laporan keuangan berkala. Bank pelat merah ini mencatat laba bersih Rp16,15 triliun, naik 6 persen dari Rp15,23 triliun pada periode yang sama tahun lalu, dengan laba per saham dasar naik dari 405 menjadi 432. Total aset tumbuh dari Rp1.362,05 triliun pada akhir 2025 menjadi Rp1.481,83 triliun per akhir September 2026.
Pendorong utama kinerja adalah pendapatan bunga bersih yang naik dari Rp29,25 triliun menjadi Rp33,24 triliun, ditopang penyaluran kredit yang tumbuh dari Rp899,53 triliun menjadi Rp992,51 triliun dan simpanan nasabah yang naik dari Rp1.040,83 triliun menjadi Rp1.124,59 triliun. Di sisi lain, BNI membentuk cadangan kerugian penurunan nilai sebesar Rp7,26 triliun untuk mengantisipasi kredit bermasalah, naik dari Rp6,12 triliun pada periode sebelumnya, seiring beban bunga yang juga melonjak dari Rp21,91 triliun menjadi Rp26,77 triliun.
Namun total ekuitas justru turun dari Rp176,34 triliun menjadi Rp174,26 triliun, dengan rasio kecukupan modal (CAR) merosot dari 21,09 persen menjadi 19,20 persen dan return on asset (ROA) turun dari 2,17 persen menjadi 1,95 persen. Laba komprehensif, yang mencakup laba bersih ditambah untung-rugi yang belum terealisasi, turun tajam dari Rp18,57 triliun menjadi Rp11,67 triliun, terutama karena kerugian belum terealisasi Rp6,06 triliun dari perubahan nilai pasar efek dan obligasi pemerintah yang dipegang bank, berbanding terbalik dengan keuntungan Rp4,30 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Laporan ini juga mencatat munculnya pos saham treasuri senilai Rp49,775 miliar, terkait program pembelian kembali saham BNI yang sebelumnya telah dilaporkan terealisasi 22,95 juta saham.
