PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) mengoreksi suratnya tertanggal 4 September 2026 perihal Penyampaian Materi Public Expose Tahunan. Surat koreksi bernomor CSE/7/8562 ini merujuk pada rencana penyelenggaraan Public Expose Tahunan yang sebelumnya diumumkan melalui surat No CSE/7/8303 tanggal 26 Agustus 2026. Surat ditandatangani oleh Okki Rushartomo Budiprabowo selaku Corporate Secretary BNI, dan melampirkan materi presentasi bertajuk 1H26 Public Expose Live yang dipaparkan di Jakarta pada 9 September 2026.

Materi presentasi tersebut memuat rincian kinerja keuangan semester I 2026. Laba bersih tercatat Rp10,8 triliun, naik 7 persen dibanding Rp10,1 triliun pada semester I 2025. Penyaluran kredit tumbuh 24 persen secara tahunan atau bertambah Rp189,7 triliun, sementara dana pihak ketiga tumbuh 22 persen atau bertambah Rp200,3 triliun. Rasio kecukupan modal (CAR) BNI, dihitung bank only, berada di 18,1 persen, jauh di atas syarat minimum otoritas sebesar 14,5 persen. Rasio kredit bermasalah (NPL) stabil di 1,9 persen, sama seperti setahun sebelumnya, sedangkan kredit berisiko gagal bayar (Loan at Risk) turun tajam dari 11,0 persen menjadi 8,1 persen. Pembentukan NPL baru tercatat Rp5,8 triliun pada semester I 2026, turun 26 persen dibanding periode sama tahun lalu.

Laba inti sebelum pencadangan (PPOP) konsolidasi mencapai Rp18,5 triliun, naik 14,5 persen secara tahunan dan menjadi capaian semester pertama tertinggi dalam lima tahun terakhir. Pendorongnya adalah pendapatan bunga bersih Rp22,3 triliun (naik 14,2 persen) dan pendapatan berbasis komisi Rp9,0 triliun (naik 14,2 persen). Portofolio pembiayaan berkelanjutan BNI mencapai Rp195,7 triliun atau 20,5 persen dari total kredit bank only, terdiri dari pembiayaan pemberdayaan sosial-ekonomi Rp120,4 triliun dan pembiayaan hijau Rp75,4 triliun yang tumbuh dengan CAGR 18,6 persen sejak Desember 2020. Materi presentasi juga mencantumkan konsensus analis Bloomberg per 27 Juli 2026: dari seluruh analis yang disurvei, 78 persen merekomendasikan beli saham BBNI, 17 persen tahan, dan 5 persen jual, dengan konsensus laba bersih tahun penuh 2026 sebesar Rp21,3 triliun, di mana capaian semester pertama sudah mencapai 51 persen dari target tersebut. Rasio pembayaran dividen yang direncanakan untuk tahun buku 2026 sebesar 65 persen, sama dengan tahun sebelumnya.