PT Bhineka Inovasi Ketahanan Energi Tbk (BIKE) mengumumkan dua rencana besar sekaligus dalam satu keterbukaan informasi, 4 November 2026. Pertama, penambahan tujuh Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) baru yaitu pembangkit tenaga listrik, pembangkit-transmisi-distribusi listrik terintegrasi, e-commerce, infrastruktur komputasi dan hosting, fasilitas lapangan, kawasan industri, serta aktivitas perusahaan induk. Kedua, rencana menerima fasilitas pinjaman Standby Loan senilai maksimum Rp1,1 triliun dari PT Penajam Makmur Jaya (PMJ), pemegang saham pengendali BIKE yang menguasai 74,90 persen saham perusahaan. Kedua rencana ini wajib mendapat persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan Jumat, 11 Desember 2026.
Pinjaman dari PMJ ini berbunga tetap 8 persen per tahun, tanpa jaminan, dengan jangka waktu tujuh tahun terhitung dari tanggal perjanjian pinjaman 8 Agustus 2026 hingga jatuh tempo 8 Agustus 2033. Dana bisa ditarik bertahap sesuai kebutuhan, pokok pinjaman dibayar melalui mekanisme revenue sweep atau penyisihan 10 persen dari pendapatan kotor proyek, dan BIKE boleh melunasi lebih cepat sewaktu-waktu tanpa denda dengan pemberitahuan tertulis 30 hari sebelumnya. Karena PMJ adalah pengendali, transaksi ini tergolong transaksi afiliasi sekaligus transaksi material, dan penilai independen KJPP Febriman Siregar dan Rekan menyatakan transaksi ini wajar dalam laporan bertanggal 4 November 2026.
Dampaknya ke laporan keuangan tidak kecil. Ekuitas BIKE per 31 Desember 2025 hanya tercatat Rp84,7 miliar, sehingga nilai pinjaman Rp1,1 triliun setara 1.298,68 persen dari ekuitas tersebut. Berdasarkan proforma per 31 Juli 2026, bila seluruh fasilitas ditarik, total liabilitas perusahaan akan melonjak menjadi sekitar Rp1,1 triliun dan rasio utang terhadap ekuitas naik dari 0,37 kali menjadi 83,9 kali. Beban bunga yang harus ditanggung mencapai Rp88 miliar per tahun, atau total Rp616 miliar selama tujuh tahun masa pinjaman, dan dokumen menyebut sumber pembayarannya adalah arus kas dari bisnis-bisnis baru yang baru akan dibangun.
Rencana penambahan KBLI ini didasari studi kelayakan KJPP Tobing Panuturi Dan Rekan tertanggal 14 Oktober 2026 yang menyimpulkan proyek layak dijalankan, mencakup empat proyek utama. BIKE berencana menjadi kontraktor EPC Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Bali berkapasitas 200 MW selama 48 bulan, data center modular di Pulomas dengan kapasitas awal 10 MW dalam 24 bulan konstruksi, Kawasan Industri Hijau Indramayu di lahan 1.300 hektare dengan PLTS 200 MW dan sistem penyimpanan baterai 613 MWh, serta lapangan golf internasional di Mandalika seluas 127,3 hektare. Proyeksi kelayakan keuangan masing-masing proyek bervariasi, dengan periode balik modal terpanjang di Kawasan Industri Indramayu, yaitu 11 tahun 4 bulan.
