PT Bhineka Inovasi Ketahanan Energi Tbk (BIKE) mengirim surat koreksi tertanggal 27 Oktober 2026 yang menggantikan tanggapannya tanggal 24 Oktober 2026 kepada Bursa Efek Indonesia. Surat ini menjawab permintaan penjelasan BEI nomor S-13293/BEI.PP3/10-2026 tanggal 21 Oktober 2026, yang ditandatangani Direktur I BIKE, Muhamad Kuswandi. Salah satu yang dikoreksi adalah rencana akuisisi 99 persen saham PT Ratu Karya (RK) lewat PT Mega Teknologi Investama (MTI). BIKE menegaskan dana pembeliannya, yaitu pinjaman modal Rp1 triliun dari PT Penajam Makmur Jaya (PMJ), masih belum cair karena kajian independen oleh kantor jasa penilai publik (KJPP) belum selesai, meski status RK sebagai anak usaha sudah diumumkan sejak 18 September 2026 dengan tanggal efektif administratif 16 Juli 2026.

Untuk akuisisi PT Prambanan Nusantara Energi (PNE), BIKE mengoreksi bahwa pembeliannya bukan langsung ke PNE, melainkan lewat pengambilalihan 99 persen saham PT Fahreza Bumi Mega (FBM) dari Nadila Syafira, yang kini justru menjabat sebagai salah satu direksi BIKE, sehingga transaksi ini tergolong berafiliasi. FBM menguasai 9.900 lembar saham atau 99 persen dari PNE. Dana pembeliannya juga direncanakan dari fasilitas pinjaman PMJ yang sama dan belum terbayar. Data keuangan PNE per 30 September 2026 menunjukkan aset Rp87,35 miliar, liabilitas Rp42,13 miliar, dan ekuitas Rp45,22 miliar, melonjak dari posisi akhir 2025 yang asetnya hanya Rp31,5 miliar dan masih merugi Rp76,8 juta. Pendapatan PNE tercatat Rp112,5 miliar hingga September 2026, naik dari nol pada 2024 dan 2025, berasal dari akumulasi tiga kontrak pengelolaan Wilayah Kerja Akimuegah II dengan skema bagi hasil, yaitu Rp22,5 miliar pada Agustus 2025, tambahan Rp42,5 miliar pada November 2025, dan Rp60 miliar pada Maret 2026.

PNE sendiri kemudian mengakuisisi 72 persen saham PT Berau Usaha Mandiri (BUM), pemegang izin usaha pertambangan batu bara seluas 500 hektare di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, dengan cadangan terbukti 2,08 juta ton, efektif sejak 7 Oktober 2026 dan didanai dari kas internal PNE tanpa hubungan afiliasi. BIKE mengoreksi data sebelumnya yang mencantumkan proyeksi pendapatan BUM untuk 2025 dan 2026, menyatakan bahwa realisasi pendapatan BUM sebenarnya hanya terjadi pada periode 2021 hingga 2024 dari penjualan batu bara 400 sampai 500 metrik ton per tahun, sementara angka 2025 dan 2026 yang sebelumnya muncul adalah proyeksi yang belum terwujud. Baik RK, PNE, maupun BUM disebut belum dikonsolidasikan ke laporan keuangan BIKE meski status anak usahanya sudah diumumkan ke publik.