PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA) melaporkan laba bersih Rp72,85 miliar untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026, naik 121,8 persen dari Rp32,85 miliar pada periode yang sama tahun lalu, berdasarkan laporan keuangan interim yang belum diaudit yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia pada 31 Oktober 2026. Kenaikan ini ditopang pendapatan bunga neto yang naik 13,3 persen menjadi Rp478,2 miliar, serta penerimaan kembali dari kredit yang sudah dihapusbukukan senilai Rp138 miliar, jauh lebih tinggi dari Rp19,3 miliar pada periode sebelumnya. Laba per saham dasar ikut melonjak dari Rp5,36 menjadi Rp11,87.
Namun kenaikan laba ini tidak serta merta memperkuat modal bank. Ekuitas BINA justru turun 8,9 persen, dari Rp3,31 triliun pada akhir 2025 menjadi Rp3,02 triliun pada akhir September 2026, karena portofolio surat berharga milik bank mencatat kerugian belum terealisasi senilai Rp366,5 miliar akibat turunnya nilai wajar efek yang digolongkan sebagai nilai wajar melalui penghasilan komprehensif lain. Akibatnya, total penghasilan komprehensif perusahaan berbalik menjadi rugi Rp293,7 miliar, dari laba komprehensif Rp87,1 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Di sisi aset dan pendanaan, total aset BINA naik 8,3 persen menjadi Rp33,89 triliun, ditopang kenaikan penyaluran kredit neto 12,8 persen menjadi Rp16,76 triliun. Namun simpanan nasabah turun 6,1 persen menjadi Rp25,61 triliun, sementara pendanaan melalui penjualan efek dengan janji dibeli kembali (repo) melonjak dari Rp301 miliar menjadi Rp4,69 triliun. Pergeseran ini menunjukkan bank semakin mengandalkan pendanaan jangka pendek dari pasar uang untuk menambal berkurangnya simpanan nasabah.
