PT Cakra Buana Resources Energi Tbk (CBRE) menyampaikan laporan keuangan interim yang belum diaudit untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026. Total aset perusahaan tercatat Rp1.950,53 triliun, turun 2,73 persen dibanding akhir 2025 yang sebesar Rp2.005,24 triliun. Sebaliknya, total liabilitas naik 7 persen menjadi Rp2.095,39 triliun dari Rp1.958,33 triliun. Akibatnya, ekuitas perusahaan yang pada akhir 2025 masih positif Rp46,91 miliar kini berbalik menjadi negatif Rp144,86 miliar, artinya total utang perusahaan sudah melampaui total asetnya.
Rugi bersih sembilan bulan melonjak menjadi Rp191,77 miliar, naik tajam dari Rp32,84 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Pendapatan sebenarnya tumbuh dari Rp28,54 miliar menjadi Rp140,45 miliar, tetapi beban pokok pendapatan tumbuh lebih cepat ke Rp167,14 miliar sehingga perusahaan mencatat rugi kotor Rp26,69 miliar. Pemicu utama pembengkakan rugi adalah kerugian selisih kurs, yaitu kerugian akibat perubahan nilai tukar mata uang pada utang atau transaksi dalam valuta asing, yang melonjak dari hanya Rp56,37 juta menjadi Rp117,13 miliar. Beban bunga pinjaman juga naik dari Rp10,09 miliar menjadi Rp33,48 miliar. Rugi per saham dasar membesar dari Rp7,24 menjadi Rp42,26 per saham.
Dalam surat penjelasan perubahan aset dan liabilitas ke Bursa Efek Indonesia, manajemen CBRE menjelaskan kas perusahaan turun dari Rp14,30 miliar menjadi Rp5,33 miliar karena digunakan untuk belanja aset tetap dan pembayaran operasional. Persediaan, terutama solar untuk operasional kapal, naik dari Rp6,16 miliar menjadi Rp22,65 miliar. Di sisi liabilitas, pinjaman bank jangka panjang melonjak dari Rp170,17 miliar menjadi Rp805,74 miliar, sementara utang lain-lain kepada pihak ketiga turun Rp705,82 miliar karena pembayaran terkait pembelian kapal bernama Gunanusa Hailong. Utang kepada pihak berelasi jangka panjang juga naik dari Rp50,91 miliar menjadi Rp415,48 miliar.
