PT Bundamedik Tbk (BMHS) menyampaikan laporan keuangan konsolidasian interim yang tidak diaudit untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026 kepada OJK dan Bursa Efek Indonesia pada 2 November 2026, ditandatangani oleh Direktur Utama Agus Heru Darjono dan Direktur Cuncun Wijaya. Pendapatan neto perusahaan naik 2,8 persen, dari Rp1,15 triliun pada sembilan bulan pertama 2025 menjadi Rp1,19 triliun pada periode yang sama tahun ini. Namun laba sebelum pajak justru ambruk dari Rp26,13 miliar menjadi hanya Rp1,36 miliar, sehingga laba bersih periode berjalan turun dari Rp20,01 miliar menjadi Rp1,05 miliar, sekitar 95 persen lebih rendah dibanding tahun sebelumnya.

Penurunan laba ini terjadi karena beban usaha naik 5,4 persen menjadi Rp494,04 miliar, beban keuangan naik dari Rp50,48 miliar menjadi Rp53,04 miliar, dan beban operasi lain tercatat Rp15,74 miliar, hampir dua kali lipat dari Rp8,11 miliar pada periode sebelumnya. Laba bersih yang menjadi hak pemegang saham induk turun dari Rp12,25 miliar menjadi Rp4,67 miliar, sementara bagian kepentingan nonpengendali, yaitu pemegang saham minoritas di anak usaha, justru mencatat rugi Rp3,62 miliar dibanding untung Rp7,76 miliar pada tahun sebelumnya. Laba per saham dasar tercatat Rp0,5, turun dari Rp1,4 pada periode yang sama tahun lalu.

Dari sisi arus kas, kas bersih dari aktivitas operasi turun dari Rp50,98 miliar menjadi Rp16,51 miliar, sementara belanja modal untuk perolehan aset tetap melonjak dari Rp102,65 miliar menjadi Rp240,06 miliar. Untuk membiayainya, perusahaan menarik pinjaman bank baru senilai Rp171,76 miliar dan menerima suntikan modal Rp33,63 miliar dari pihak ketiga ke salah satu anak usahanya, sehingga saldo kas pada akhir September 2026 turun menjadi Rp751,07 miliar dari Rp826,58 miliar pada akhir 2025. Perusahaan juga membagikan dividen tunai Rp8,86 miliar kepada pemegang saham induk dan Rp11,96 miliar dari anak usaha kepada pemegang saham minoritasnya, sementara total ekuitas naik tipis menjadi Rp2,40 triliun dan total liabilitas naik 6,5 persen menjadi Rp1,73 triliun, terutama karena pinjaman bank jangka panjang bertambah menjadi Rp895,39 miliar.