PT Borneo Olah Sarana Sukses Tbk. (BOSS) mengoreksi surat sebelumnya tertanggal 20 Oktober 2026 dan menetapkan jadwal baru public expose tahunan untuk tahun buku 2025 pada 4 November 2026 pukul 11.30 WIB, bertempat di Wisma 77 Tower 1 Lantai 8, Slipi, Jakarta Barat. Surat ditandatangani oleh Direktur Widodo Nurly Sumady, dengan materi presentasi dilampirkan dalam dokumen berjudul BOSS PUBEX TH2025.pdf.
Materi yang dilampirkan menyebutkan suspensi saham BOSS masih berlangsung sejak April 2024, akibat belum terpenuhinya kewajiban penyampaian laporan keuangan auditan untuk tahun buku 2023, 2024, dan 2025, serta dampak kepailitan salah satu entitas anak perusahaan. Perseroan juga mengonfirmasi tidak membukukan produksi maupun penjualan batubara sama sekali sepanjang 2025, persis seperti tahun 2024 sebelumnya. Manajemen menyebut fokusnya saat ini pada efisiensi biaya di tingkat holding, minimalisasi risiko hukum, dan mitigasi risiko dari utang ke pihak-pihak terkait yang belum terselesaikan. Dana jaminan reklamasi lingkungan pascatambang disebut belum dapat direalisasikan.
Untuk 2026, perseroan menyatakan sedang menjajaki dan bernegosiasi secara selektif dengan calon mitra strategis guna menghidupkan kembali operasional tambang di konsesi PT Pratama Bersama (PB), sekaligus mengurus perpanjangan izin PT Bangun Olah Sarana Sukses (BOS) yang berstatus dalam pailit. Target lainnya adalah menyelesaikan audit laporan keuangan tahun buku 2023, 2024, dan 2025, sekaligus menjadwalkan RUPS tahun buku terkait dan RUPSLB, yang menurut perseroan menjadi syarat penyelesaian suspensi saham BOSS. Dokumen juga mencatat entitas anak PB pernah memperoleh dukungan pendanaan eksplorasi dari Japan Organization for Metals and Energy Security (JOGMEC) hingga senilai US$3.000.000.
Sebagai konteks pasar, materi menyebutkan produksi batubara nasional 2025 mencapai sekitar 817,48 juta ton, terdiri dari ekspor 523,35 juta ton dan pemenuhan domestik (DMO) 246,88 juta ton. Harga acuan batubara kalori 6.322 kcal/kg GAR tertekan hingga sekitar US$98 per ton pada Desember 2025, sebelum kembali menguat ke kisaran US$122 hingga US$132 per ton pada Juni-Oktober 2026.
