PT Pyridam Farma Tbk (PYFA) membukukan pendapatan neto Rp2,41 triliun untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026, naik 17,2 persen dari Rp2,06 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya, berdasarkan laporan keuangan interim yang tidak diaudit. Laba bruto perusahaan naik dari Rp417,86 miliar menjadi Rp542,76 miliar. Perusahaan masih mencatat rugi usaha Rp12,81 miliar, tetapi itu membaik dibandingkan rugi usaha Rp150,70 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Setelah memperhitungkan beban keuangan yang melonjak dari Rp239,01 miliar menjadi Rp322,43 miliar, rugi bersih periode berjalan tercatat Rp338,70 miliar, sedikit mengecil dari rugi Rp365,82 miliar pada sembilan bulan 2025. Rugi per saham dasar turun menjadi Rp30,14 dari Rp32,56.

Di sisi ekuitas, total ekuitas perusahaan turun dari Rp985,18 miliar pada akhir 2025 menjadi Rp760,68 miliar pada akhir September 2026. Ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk menyusut dari Rp766,99 miliar menjadi Rp545,59 miliar, seiring defisit yang belum ditentukan penggunaannya membesar dari Rp424,47 miliar menjadi Rp763,17 miliar akibat akumulasi rugi. Total aset perusahaan justru naik dari Rp6,77 triliun menjadi Rp7,35 triliun, sementara total liabilitas naik dari Rp5,79 triliun menjadi Rp6,59 triliun.

Struktur utang perusahaan berubah signifikan pada periode ini. Liabilitas jangka panjang atas utang bank yang jatuh tempo dalam satu tahun melonjak dari Rp184,86 miliar menjadi Rp737,73 miliar, dan utang obligasi senilai Rp399,75 miliar yang sebelumnya tercatat sebagai liabilitas jangka panjang kini masuk kategori jatuh tempo dalam satu tahun. Akibatnya, total liabilitas jangka pendek melonjak dari Rp1,15 triliun menjadi Rp2,29 triliun, sementara total aset lancar perusahaan hanya Rp1,54 triliun. Kas dan setara kas tercatat Rp126,06 miliar per akhir September 2026, naik dari Rp101,79 miliar pada akhir 2025, antara lain ditopang penerimaan utang bank baru senilai Rp524,37 miliar selama periode ini.