PT Bank Bumi Arta Tbk (BNBA) menyampaikan laporan keuangan interim per 30 September 2026 sekaligus surat penjelasan khusus ke Otoritas Jasa Keuangan dan Bursa Efek Indonesia, karena total aset dan total liabilitasnya berubah lebih dari 20 persen dibandingkan akhir 2025, sesuai aturan keterbukaan Peraturan I-E. Total aset tercatat Rp6,99 triliun per akhir September 2026, turun 18,16 persen atau Rp1,55 triliun dari Rp8,55 triliun per 31 Desember 2025. Total liabilitas turun lebih tajam, 29,88 persen atau sekitar Rp1,59 triliun, dari Rp5,32 triliun menjadi Rp3,73 triliun.

Menurut surat yang diteken Wakil Komisaris/Komisaris Independen Daniel Budi Dharma dan Komisaris I Gusti Agung Rai Wirajaya, penyebab utama penyusutan itu adalah simpanan nasabah yang turun Rp1,58 triliun atau 30,68 persen, dari Rp5,14 triliun menjadi Rp3,56 triliun. Rinciannya, deposito berjangka turun Rp1,37 triliun atau 35,82 persen, giro turun Rp156,13 miliar atau 16,44 persen, dan tabungan turun Rp53,33 miliar atau 14,20 persen. Bank menyebut dana nasabah, terutama deposito, berpindah ke bank kompetitor yang menawarkan suku bunga jauh lebih tinggi, dan manajemen mengaku tetap mengelola bunga simpanan secara selektif sambil menjaga margin bunga bersihnya.

Di sisi laba rugi, kondisinya justru berbalik arah. Laba bersih sembilan bulan 2026 tercatat Rp37,43 miliar, naik lebih dari dua kali lipat dari Rp17,84 miliar pada periode sama tahun lalu, dengan laba per saham naik dari Rp5,27 menjadi Rp11,05. Kenaikan laba ini ditopang oleh pembalikan cadangan kerugian penurunan nilai sebesar Rp11,49 miliar, berbanding penyisihan beban Rp15,05 miliar pada tahun sebelumnya, serta beban operasional lain yang turun dari Rp217,65 miliar menjadi Rp208,71 miliar. Ekuitas bank naik tipis dari Rp3,23 triliun menjadi Rp3,27 triliun, sementara arus kas dari aktivitas operasi justru defisit Rp644,18 miliar, jauh lebih besar dari defisit Rp52,83 miliar tahun lalu, terutama karena bank harus membayarkan dana nasabah yang ditarik.