PT Bali Bintang Sejahtera Tbk (BOLA), perusahaan induk pengelola klub sepak bola Bali United, membukukan rugi bersih Rp105,59 miliar untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026, berbalik dari laba Rp78,28 miliar pada periode yang sama tahun 2025. Pendapatan perusahaan sebenarnya naik menjadi Rp245,17 miliar dari Rp205,45 miliar, tetapi beban operasi melonjak lebih tinggi ke Rp299,51 miliar dari Rp218,55 miliar, sehingga rugi operasi membesar dari Rp13,10 miliar menjadi Rp54,34 miliar. Rugi makin dalam karena pos pendapatan dan beban lain-lain berbalik menjadi beban Rp51,25 miliar, padahal pada periode sebelumnya pos ini menyumbang pendapatan Rp91,38 miliar.

Dari sisi posisi keuangan, total aset BOLA turun 4,80 persen menjadi Rp855,46 miliar per 30 September 2026, dan total ekuitas turun 13,06 persen menjadi Rp702,60 miliar. Penurunan ekuitas ini utamanya berasal dari saldo laba yang tergerus 38,17 persen menjadi Rp168,13 miliar, akibat kerugian belum terealisasi dari fluktuasi harga saham portofolio investasi di Bursa Efek Indonesia yang secara kumulatif mencapai Rp87,9 miliar sampai kuartal III 2026. Investasi jangka pendek pun turun 22,59 persen menjadi Rp243,00 miliar karena fluktuasi harga saham tersebut dan adanya penarikan investasi. Di sisi lain, total liabilitas justru melonjak 69,12 persen menjadi Rp152,87 miliar, didorong lonjakan pendapatan diterima dimuka 217,88 persen menjadi Rp56,50 miliar karena penagihan atas pekerjaan yang belum selesai dikerjakan, utang usaha pihak ketiga yang naik 68,84 persen menjadi Rp48,53 miliar karena biaya proyek yang jatuh tempo Oktober 2026, dan utang pajak yang naik 166,38 persen menjadi Rp15,43 miliar akibat kenaikan PPN keluaran dari penerbitan invoice September 2026.

Di sisi arus kas, kegiatan operasi BOLA justru membaik menjadi kas masuk bersih Rp25,57 miliar, dari sebelumnya kas keluar bersih Rp40,17 miliar, didukung penagihan piutang usaha pihak ketiga yang naik 61,88 persen menjadi Rp192,74 miliar dari sponsorship dan hak siar live streaming liga musim 2026/2027 yang baru bergulir. Namun kas dan setara kas di akhir periode tetap turun menjadi Rp19,38 miliar dari Rp32,99 miliar di awal periode, setelah digunakan untuk belanja aset tetap Rp18,71 miliar. Rugi per saham tercatat Rp17,30, berbalik dari laba per saham Rp13,13 pada periode yang sama tahun lalu. Laporan ditandatangani Direktur Utama Yabes Tanuri dan Direktur Keuangan Yohanes Ade Bunian Maniaga pada 31 Oktober 2026, dengan pemegang saham pengendali tercatat atas nama Pieter Tanuri.