PT Borneo Olah Sarana Sukses Tbk (BOSS) menyampaikan laporan keuangan interim tidak diaudit untuk periode enam bulan yang berakhir 30 Juni 2024, ditandatangani Direktur Utama Freddy Tedjasasmita dan Direktur Widodo Nurly Sumady pada 1 November 2026. Artinya laporan untuk semester pertama 2024 ini baru disetor ke Bursa Efek Indonesia lebih dari dua tahun setelah periode tersebut berakhir, sejalan dengan rangkaian keterlambatan pelaporan BOSS yang sudah berulang kali diberitakan pekan ini.

Secara angka, BOSS kembali tidak membukukan penjualan bersih sama sekali pada semester I 2024, dibandingkan Rp121,83 miliar pada semester I 2023. Rugi bersih memang menyusut menjadi Rp17,76 miliar dari Rp74,09 miliar, tetapi penyusutan ini semata karena hampir tidak ada beban pokok penjualan maupun beban penjualan yang tercatat, bukan tanda perbaikan bisnis. Jumlah aset turun menjadi Rp589,43 miliar dari Rp596,64 miliar pada akhir 2023, sementara jumlah liabilitas naik menjadi Rp809,08 miliar dari Rp798,48 miliar, membuat defisiensi modal, yaitu kondisi utang sudah melebihi aset, melebar menjadi Rp219,64 miliar dari Rp201,83 miliar.

Dari sisi arus kas, kas bersih yang terpakai untuk kegiatan operasi melonjak menjadi Rp135,47 miliar dari Rp33,63 miliar pada semester I 2023. Salah satu penyebabnya, BOSS harus mengembalikan Rp94,61 miliar uang muka penjualan yang sebelumnya sudah diterima dari pelanggan, sehingga pos uang muka penjualan di neraca turun ke nol dari Rp94,61 miliar pada akhir 2023. Lubang kas ini ditambal dari aktivitas pendanaan sebesar Rp135,35 miliar, sebagian besar berasal dari penerimaan utang pihak ketiga baru senilai Rp127,17 miliar, yang membuat pos utang lainnya kepada pihak ketiga di neraca melonjak dari Rp111,13 miliar menjadi Rp238,30 miliar. Kas dan setara kas BOSS di akhir periode hanya tersisa Rp842,69 juta, turun dari Rp998,86 juta pada awal periode.

Dari empat anak usaha yang disebut dalam laporan, tiga masih berstatus pra-operasi, yaitu PT Pratama Bersama, PT Pratama Prime Resource, dan PT Pratama Natural Resource, dengan hanya PT Bangun Olah Sarana Sukses di Kalimantan yang benar-benar beroperasi.