PT Borneo Olah Sarana Sukses Tbk (BOSS) menyampaikan laporan keuangan interim yang tidak diaudit untuk periode tiga bulan yang berakhir 31 Maret 2024, lewat surat bernomor 12.206a/SL.e/Dir/BOSS/X/2026 tertanggal 2 November 2026. Surat pernyataan direksi ditandatangani Direktur Utama Freddy Tedjasasmita dan Direktur Widodo Nurly Sumady, yang menyatakan bertanggung jawab atas kelengkapan dan kebenaran laporan tersebut.

Pada kuartal I 2024, BOSS kembali tidak membukukan penjualan sama sekali, berbeda dari kuartal I 2023 yang masih mencatat penjualan bersih Rp44,18 miliar. Rugi bersih periode ini tercatat Rp4,26 miliar, jauh lebih kecil dari rugi Rp95,78 miliar pada kuartal I 2023, sehingga rugi per saham dasar turun dari Rp68 menjadi Rp3. Beban yang tersisa hanya beban umum dan administrasi Rp4,09 miliar serta beban keuangan Rp37,74 juta, karena praktis tidak ada lagi aktivitas usaha.

Dari sisi posisi keuangan, total aset BOSS per 31 Maret 2024 tercatat Rp592,82 miliar, turun dari Rp596,64 miliar pada akhir 2023, dengan kas perusahaan tergerus dari Rp998,86 juta menjadi Rp962,97 juta. Total liabilitas mencapai Rp799,43 miliar, membuat defisiensi modal yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk melebar dari Rp201,83 miliar menjadi Rp206,61 miliar dalam tiga bulan. Arus kas dari aktivitas operasi tercatat negatif Rp30,09 miliar, ditutupi oleh aktivitas pendanaan berupa penerimaan utang pihak ketiga Rp32,03 miliar dan pelunasan utang bank jangka pendek Rp2,61 miliar.

Laporan ini juga memuat struktur anak usaha BOSS per akhir 2023: Pratama Natural Resource (PNR) bergerak di perdagangan dan masih pra-operasi, PT Bangun Olahsarana Sukses (BOS) dan PT Pratama Bersama (PB) adalah dua entitas tambang yang berstatus operasi, sementara PT Pratama Buana Sentosa (PBS) dan PT Pratama Prime Resource (PPR) masih pra-operasi. Hanya dua dari lima anak usaha itu yang berstatus beroperasi, namun grup secara konsolidasi tetap tanpa penjualan sepanjang periode.