PT Borneo Olah Sarana Sukses Tbk (BOSS) menyampaikan laporan keuangan interim tidak diaudit untuk periode tiga bulan yang berakhir 31 Maret 2025 kepada Bursa Efek Indonesia. Surat pernyataan direksi ditandatangani Direktur Utama Freddy Tedjasasmita dan Direktur Widodo Nurly Sumady pada 2 November 2026, artinya laporan untuk kuartal yang berakhir lebih dari setahun lalu baru disampaikan sekarang. Saham BOSS sendiri masih tercatat di papan pemantauan khusus bursa. Dalam lampiran laporan, dua anak usaha tambang, PT Bangun Olahsarana Sukses di Kalimantan Timur (kepemilikan 41,72 persen) dan PT Pratama Bersama di Jakarta (38,03 persen), tercatat berstatus operasi sejak 2023, namun penjualan bersih kelompok usaha tetap nihil pada kuartal ini, sama seperti kuartal I 2024.

Rugi bersih periode berjalan tercatat Rp8,46 miliar, naik dua kali lipat dari Rp4,26 miliar pada kuartal I 2024. Total aset turun dari Rp588,05 miliar pada akhir 2024 menjadi Rp579,47 miliar pada 31 Maret 2025. Total liabilitas relatif stabil di Rp812,07 miliar. Akibatnya, defisiensi modal, yaitu kondisi ketika total utang perusahaan sudah melampaui total asetnya, melebar dari minus Rp224,12 miliar menjadi minus Rp232,61 miliar hanya dalam tiga bulan.

Kas dan setara kas perusahaan turun dari Rp2,45 miliar menjadi Rp836,8 juta, atau susut sekitar 66 persen. Arus kas dari kegiatan usaha sehari-hari tercatat minus Rp53,18 miliar, membesar dari minus Rp30,09 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Kekurangan kas itu ditutup lewat pendanaan baru, terutama penambahan utang pihak ketiga senilai Rp71,46 miliar dan utang pihak berelasi Rp2,60 miliar, sehingga arus kas dari aktivitas pendanaan berbalik positif Rp70,77 miliar dibanding minus Rp34,45 miliar setahun sebelumnya.