PT Borneo Olah Sarana Sukses Tbk (BOSS) menyampaikan laporan keuangan interim tidak diaudit untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2024 kepada Bursa Efek Indonesia pada 2 November 2026, melalui surat bernomor 12.207a/SL.e/Dir/BOSS/X/2026 yang ditandatangani Direktur Utama Freddy Tedjasasmita dan Direktur Widodo Nurly Sumady. Laporan untuk periode yang berakhir dua tahun lalu ini baru disampaikan sekarang, menambah daftar laporan keuangan BOSS yang disetor jauh dari jadwal semestinya.

Dalam laporan tersebut, BOSS mencatat penjualan bersih nihil sepanjang Januari-September 2024, berbanding dengan penjualan Rp142,49 miliar pada periode yang sama tahun 2023. Rugi bersih tercatat Rp13,33 miliar, memang lebih kecil dibanding rugi Rp128,59 miliar pada sembilan bulan 2023, tetapi itu terjadi karena praktis tidak ada aktivitas produksi maupun penjualan sama sekali, bukan tanda perbaikan kinerja usaha. Rugi per saham dasar ikut menyusut menjadi Rp10 per lembar dari Rp92 pada periode sebelumnya.

Defisiensi modal, yaitu kondisi ketika total utang sudah melampaui total aset perusahaan, membesar menjadi Rp215,22 miliar per 30 September 2024 dari Rp201,84 miliar per akhir 2023. Total aset turun menjadi Rp585,14 miliar dari Rp596,64 miliar, sementara total liabilitas naik tipis menjadi Rp800,36 miliar dari Rp798,48 miliar. Kas dan setara kas berkurang menjadi Rp856,95 juta dari Rp998,86 juta di akhir 2023. Arus kas dari aktivitas operasi tercatat negatif Rp105,8 miliar, berbanding positif Rp20,75 miliar pada periode yang sama 2023, dan untuk menutup kekurangan kas itu perusahaan menerima utang baru dari pihak ketiga senilai Rp104,86 miliar.

Dari lima entitas anak yang dilaporkan, hanya PT Bangun Olahsarana Sukses dan PT Pratama Bersama, yang masing-masing bergerak di pertambangan di Kalimantan Timur dan Jakarta, yang berstatus Operasi. Tiga entitas anak lain, Pratama Natural Resource, PT Pratama Buana Sentosa, dan PT Pratama Prime Resource, masih berstatus Pra-Operasi.