PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) menyampaikan laporan keuangan interim yang tidak diaudit untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026. Pendapatan usaha perseroan tercatat Rp7,54 triliun, turun 14 persen dari Rp8,76 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Laba kotor ikut turun dari Rp5,55 triliun menjadi Rp5,02 triliun, dan laba usaha tergerus dari Rp2,13 triliun menjadi Rp1,71 triliun.
Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat Rp844,7 miliar, turun 38 persen dibandingkan Rp1,36 triliun pada periode yang sama tahun 2025. Akibatnya, laba per saham dasar turun dari Rp65,20 menjadi Rp40,39. Penurunan laba ini sejalan dengan naiknya beban bunga dan biaya keuangan lain dari Rp1,14 triliun menjadi Rp1,29 triliun, atau naik sekitar 13,7 persen.
Dari sisi posisi keuangan, jumlah aset BSDE naik 2,75 persen menjadi Rp81,45 triliun per 30 September 2026 dari Rp79,27 triliun di akhir 2025, didorong kenaikan nilai aset real estat tidak lancar dan tanah yang belum dikembangkan. Namun kas dan setara kas perusahaan menyusut tajam dari Rp10,28 triliun menjadi Rp6,91 triliun. Di sisi lain, utang bank jangka panjang justru naik dari Rp11,32 triliun menjadi Rp13,38 triliun, sehingga jumlah liabilitas naik 5,95 persen menjadi Rp28,18 triliun. Jumlah ekuitas, termasuk kepentingan nonpengendali, naik tipis menjadi Rp53,26 triliun dari Rp52,67 triliun. Laporan ini juga mencantumkan dua anak usaha utama, yaitu PT Duta Pertiwi Tbk dengan kepemilikan 92,38 persen dan aset Rp16,85 triliun, serta PT Suryamas Dutamakmur Tbk dengan kepemilikan 98,97 persen dan aset Rp3,69 triliun. Dokumen ditandatangani Direktur Hermawan Wijaya dan disampaikan ke OJK serta Bursa Efek Indonesia pada 30 Oktober 2026.
