Tunas Baru Lampung (TBLA) melaporkan pendapatan usaha sembilan bulan pertama 2026 senilai Rp19,18 triliun, naik dari Rp16,38 triliun pada periode yang sama tahun lalu, menurut laporan keuangan interim yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia pada 29 Oktober 2026. Laba kotor ikut naik menjadi Rp3,12 triliun dari Rp2,70 triliun. Namun laba bersih yang bisa diatribusikan kepada pemegang saham induk justru turun menjadi Rp591,39 miliar dari Rp629,55 miliar pada periode yang sama tahun lalu, sehingga laba per saham turun dari Rp104,85 menjadi Rp98,50.

Penurunan laba bersih terjadi meski penjualan tumbuh, karena beban bunga dan beban keuangan lainnya naik menjadi Rp1,13 triliun dari Rp1,02 triliun. Utang bank jangka pendek perusahaan juga membengkak menjadi Rp9,62 triliun per akhir September 2026, dari Rp8,35 triliun di akhir 2025, sementara utang bank jangka panjang naik menjadi Rp7,79 triliun dari Rp7,58 triliun. Sejalan dengan itu, total aset TBLA naik menjadi Rp32,20 triliun dari Rp30,52 triliun, dan total ekuitas naik menjadi Rp9,48 triliun dari Rp9,25 triliun.

Dari sisi arus kas, kegiatan operasional TBLA berbalik menghasilkan kas bersih Rp206,84 miliar pada sembilan bulan 2026, dibandingkan kas yang justru terpakai Rp1,99 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Perusahaan juga membayar dividen tunai Rp360,24 miliar pada 2026, naik tajam dari Rp72,10 miliar yang dibayarkan pada 2025. Laporan ini tidak diaudit dan ditandatangani oleh Presiden Direktur Widarto serta Direktur Jason Indrian Winata, sesuai surat pernyataan direksi tertanggal 29 Oktober 2026.