Pudjiadi Prestige Tbk (PUDP) menyampaikan laporan keuangan interim konsolidasian periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026, tidak diaudit, kepada Bursa Efek Indonesia pada 27 Oktober 2026, ditandatangani Direktur Utama Damian Pudjiadi dan Direktur Toto Sasetyo Dwi Budi Listyanto. Dalam periode ini, Perseroan mencatat rugi bersih Rp7,21 miliar, berbalik dari laba bersih Rp1,60 miliar pada periode yang sama tahun 2025. Rugi per saham dasar tercatat Rp10,94, dibanding laba Rp2,43 per saham setahun sebelumnya, dengan jumlah saham beredar tetap 659.120.000 lembar. Pendapatan perusahaan sebenarnya naik menjadi Rp29,46 miliar dari Rp27,06 miliar, dan laba kotor ikut naik menjadi Rp18,88 miliar dari Rp16,31 miliar, namun kenaikan itu tidak cukup menutup beban-beban lain yang membuat Perseroan akhirnya mencatat rugi bersih.
Kas dan setara kas Perseroan turun 64 persen menjadi Rp2,46 miliar per akhir September 2026, dari Rp6,88 miliar di akhir 2025. Dalam laporan ke BEI, manajemen menjelaskan penurunan itu terjadi karena dana digunakan untuk membiayai proyek baru, Solea di Lebak Bulus. Untuk mendanai proyek yang sama, Perseroan juga menambah utang bank jangka pendek sebesar 45 persen menjadi Rp25,08 miliar dari Rp17,34 miliar, yang menurut perusahaan dipakai untuk memulai proyek lewat fasilitas kredit lokal. Akibatnya, total liabilitas jangka pendek naik 18 persen menjadi Rp36,69 miliar dan total liabilitas keseluruhan naik 16 persen menjadi Rp40,57 miliar, sementara total aset relatif stabil di Rp543,96 miliar.
Ekuitas Perseroan menyusut menjadi Rp503,40 miliar dari Rp511,26 miliar, terutama akibat rugi bersih sembilan bulan ini dan pembagian dividen tunai Rp659,12 juta atau setara Rp1 per saham. Uang muka penjualan pelanggan turun tajam 90 persen menjadi Rp179,97 juta dari Rp1,88 miliar, yang menurut perusahaan terjadi karena pada 2026 Perseroan sudah mengakui penjualan sejumlah unit sebagai pendapatan. Sementara itu, penyisihan penggantian perabotan dan peralatan hotel naik 40 persen menjadi Rp206,63 juta, sejalan dengan naiknya pendapatan dari operasional hotel milik Perseroan.
