PT Segar Kumala Indonesia Tbk (BUAH), perusahaan dagang buah-buahan dan ayam beku, menyampaikan laporan keuangan interim tidak diaudit untuk sembilan bulan pertama 2026. Penjualan neto naik 18,2 persen menjadi Rp2,82 triliun, dari Rp2,39 triliun pada periode sama tahun lalu. Namun laba bersih justru turun 8,8 persen menjadi Rp45,02 miliar, dari Rp49,35 miliar, karena beban umum dan administrasi melonjak 24,6 persen menjadi Rp115,22 miliar. Akibatnya laba usaha turun dari Rp64,39 miliar menjadi Rp56,79 miliar, dan laba per saham turun dari Rp24,68 menjadi Rp22,51 setelah disesuaikan dengan pemecahan saham 1 banding 2 pada Oktober 2025.

Total aset perusahaan naik 28,9 persen menjadi Rp628,4 miliar per akhir September 2026, dari Rp487,6 miliar di akhir 2025. Kas dan setara kas melonjak 74 persen menjadi Rp181,3 miliar, ditopang arus kas dari operasi sebesar Rp124,35 miliar. Piutang usaha ke pihak ketiga naik 35,8 persen menjadi Rp172,89 miliar karena perluasan penjualan kredit dan jaringan distribusi, sementara piutang ke pihak berelasi naik 50,5 persen menjadi Rp19,48 miliar karena perusahaan mendistribusikan persediaan untuk menunjang kebutuhan pihak berelasi.

Di sisi liabilitas, total utang naik 41,9 persen menjadi Rp409,3 miliar. Utang usaha ke pihak berelasi naik 62 persen menjadi Rp201,67 miliar karena penambahan persediaan untuk cabang-cabang perusahaan. Utang lain-lain ke pihak ketiga melonjak 524,2 persen akibat beban jasa pihak ketiga yang belum dibayar, dan utang lain-lain ke pihak berelasi muncul dari nol menjadi Rp4,99 miliar dengan alasan serupa. Uang muka dari pelanggan juga naik 341,8 persen menjadi Rp39,42 miliar. Ekuitas perusahaan tetap naik 10,1 persen menjadi Rp219,09 miliar, dan perusahaan membayar dividen tunai Rp25 miliar selama periode ini, naik dari Rp21 miliar pada periode sama tahun lalu. Belanja modal untuk tanah, bangunan, kendaraan, mesin pendingin, dan peralatan kantor tercatat Rp21,14 miliar.