PT Capitol Nusantara Indonesia Tbk (CANI) melaporkan hasil Public Expose Insidentil yang digelar Jumat, 9 Oktober 2026, pukul 10.15 sampai 10.55 WIB melalui aplikasi Zoom. Acara ini dihadiri 12 orang termasuk manajemen, dengan 8 peserta dari luar perusahaan yang terdiri dari investor, wartawan pasar modal, dan undangan lain. Manajemen yang hadir adalah Komisaris Independen Jansen O.R. Warokka, Direktur Yanuar C. Wijaya, dan Corporate Secretary Riduwan Kosasih.
Dalam sesi tanya jawab, manajemen mengonfirmasi bahwa Perseroan berencana mengonversi utang kepada pihak berelasi senilai sekitar US$36,6 juta menjadi ekuitas. Skema yang dipilih adalah instrumen perpetual sekuritas, bukan lewat rights issue atau HMETD, sehingga tidak ada penerbitan saham baru dan porsi kepemilikan baik pemegang saham pengendali maupun publik tetap sama. Perseroan masih berkonsultasi dengan Otoritas Jasa Keuangan untuk rencana aksi korporasi ini, dan akan meminta pendapat akuntan publik mengenai pengklasifikasian instrumen tersebut sebagai ekuitas.
Target Perseroan adalah proses konversi ini selesai pada akhir tahun 2026, sehingga ekuitas perusahaan yang saat ini masih negatif bisa berbalik positif pada tahun 2027. Manajemen menyebut pencapaian ekuitas positif ini sebagai syarat utama agar suspensi perdagangan saham CANI bisa dicabut. Soal armada kapal, manajemen menjelaskan bahwa kapal yang dijual saat ini adalah kapal tidak produktif, karena biaya untuk mengaktifkannya kembali lebih tinggi dari nilai ekonomis yang bisa diharapkan, sekaligus mengurangi beban penyusutan. Perseroan menargetkan penambahan unit kapal baru pada 2028 sesuai permintaan pasar, dan saat ini sedang menjajaki kontrak jangka panjang dengan calon penyewa kapal.
Manajemen juga menjelaskan mengapa arus kas operasi bisa positif meski laba kotor masih merugi, yakni karena kinerja kas selama satu tahun buku terakhir berasal dari penerimaan kas pelanggan, pembayaran ke pemasok dan karyawan, pembayaran pajak, serta pendapatan bunga. Perseroan menyampaikan lima langkah peta jalan pemulihan, yaitu restrukturisasi neraca, menstabilkan operasional menuju profitabilitas, optimalisasi kapal untuk menurunkan beban operasional, mengatasi suspensi saham, dan menjaga likuiditas untuk pertumbuhan.
