PT Wilmar Cahaya Indonesia Tbk. (CEKA) membukukan pendapatan Rp8,34 triliun untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026, naik 19 persen dari Rp7 triliun pada periode yang sama tahun 2025. Laba bersih perusahaan melonjak lebih tajam, yaitu 52 persen, dari Rp160,05 miliar menjadi Rp243,70 miliar. Kenaikan laba yang lebih besar dari kenaikan pendapatan ini membuat laba per saham ikut naik dari Rp269 menjadi Rp410, dengan jumlah saham beredar tetap di 595 juta lembar.

Dalam suratnya ke Bursa Efek Indonesia, manajemen CEKA menjelaskan bahwa total aset perusahaan per 30 September 2026 mencapai Rp3,04 triliun, naik 22,43 persen atau Rp557,74 miliar dibandingkan akhir 2025. Kenaikan ini terutama disumbang oleh melonjaknya estimasi tagihan pajak sebesar 3.176 persen atau Rp524,68 miliar terkait klaim pengembalian Pajak Pertambahan Nilai (PPN) tahun pajak 2025, kenaikan persediaan bahan baku dan barang jadi sebesar 53,28 persen atau Rp213,10 miliar, serta kenaikan piutang usaha pihak ketiga sebesar 20,82 persen atau Rp119,69 miliar yang sejalan dengan kenaikan penjualan.

Di sisi liabilitas, total utang perusahaan naik jauh lebih tajam, yaitu 85,11 persen atau Rp403,29 miliar, menjadi Rp877,14 miliar. Kenaikan ini didominasi oleh utang usaha kepada pihak berelasi yang naik 121,73 persen atau Rp365,34 miliar seiring peningkatan pembelian komoditas, utang usaha pihak ketiga yang naik 44,35 persen atau Rp22,11 miliar, dan utang pajak badan yang naik 184,04 persen atau Rp21,25 miliar. Di sisi lain, kas dan setara kas perusahaan justru menyusut tajam dari Rp304,11 miliar pada akhir 2025 menjadi Rp28,48 miliar pada akhir September 2026, setelah arus kas operasi tercatat negatif Rp176,66 miliar dan perusahaan membayar dividen tunai Rp89,12 miliar.