PT Toba Surimi Industries Tbk (CRAB) menyampaikan laporan keuangan interim yang tidak diaudit untuk periode tiga bulan yang berakhir 31 Maret 2026. Penjualan bersih perusahaan produsen olahan ikan dan surimi asal Medan ini tercatat Rp104,66 miliar, turun 38,4 persen dibandingkan Rp169,90 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Laba bruto ikut turun dari Rp16,53 miliar menjadi Rp8,69 miliar. Laba bersih periode berjalan anjlok 75,7 persen, dari Rp2,53 miliar pada Maret 2025 menjadi Rp614,09 juta pada Maret 2026, sehingga laba per saham dasar turun dari Rp1,30 menjadi Rp0,31.

Di sisi neraca, total aset perusahaan naik 27,91 persen menjadi Rp365,01 miliar per 31 Maret 2026, dari Rp285,36 miliar per akhir 2025. Dalam surat penjelasan yang ditandatangani Direktur Utama Gindra Tardy kepada Bursa Efek Indonesia, manajemen menyebut kenaikan itu terutama berasal dari saldo kas dan bank yang bertambah Rp76,46 miliar menjadi Rp120,22 miliar, serta uang muka dan biaya dibayar dimuka yang naik Rp10,39 miliar. Total liabilitas melonjak jauh lebih tajam, 169,08 persen menjadi Rp125,78 miliar, terutama karena penambahan utang bank jangka pendek sebesar Rp51,27 miliar dan kenaikan uang muka pelanggan Rp17,88 miliar. Akibatnya, ekuitas perusahaan nyaris tidak bergerak, dari Rp238,62 miliar menjadi Rp239,23 miliar, hanya bertambah sekitar Rp614 juta yang berasal dari laba periode berjalan.

Surat pernyataan direksi dalam laporan ini ditandatangani pada 28 Agustus 2026 dan surat pengantar oleh Corporate Secretary Mulyanti pada 30 Agustus 2026, jauh melewati tenggat penyampaian laporan keuangan interim kuartal I yang seharusnya paling lambat akhir April 2026. Susunan direksi tercatat terdiri dari Gindra Tardy sebagai Direktur Utama bersama Erman, Irsan Sudargo, Kok Kieng, dan Sia Leng Hong sebagai direktur, dengan jumlah karyawan tetap 634 orang, sama dengan posisi akhir 2025. Jumlah saham beredar perusahaan tidak berubah, tetap 1,95 miliar saham dengan nilai nominal Rp50 per saham.