PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSRA) menyampaikan laporan keuangan interim yang tidak diaudit untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026, ditandatangani Direktur Utama Gita Sapta Adi dan Direktur Seman Sendjaja pada 28 Oktober 2026. Penjualan neto tercatat Rp2,07 triliun, naik 55,2 persen dari Rp1,33 triliun pada periode yang sama tahun 2025. Laba bersih periode berjalan naik 43,1 persen menjadi Rp306,09 miliar dari Rp213,92 miliar, sehingga laba per saham dasar naik dari Rp104 menjadi Rp149.

Dari sisi posisi keuangan, total aset perusahaan per 30 September 2026 mencapai Rp2,77 triliun, naik dari Rp2,52 triliun pada akhir 2025. Total liabilitas justru turun menjadi Rp998,03 miliar dari Rp1,05 triliun, sementara ekuitas naik 20,9 persen menjadi Rp1,77 triliun. Penurunan liabilitas ini ditopang oleh pelunasan utang bank: utang bank jangka pendek turun dari Rp100 miliar menjadi Rp60 miliar, dan total utang bank jangka panjang (termasuk bagian jatuh tempo) turun dari sekitar Rp659,58 miliar menjadi Rp428,55 miliar. Namun di sisi lain, utang jangka panjang kepada pihak berelasi melonjak dari Rp37,23 miliar menjadi Rp217,18 miliar, sejalan dengan laporan arus kas yang mencatat penerimaan utang dari pihak berelasi senilai Rp179,95 miliar sepanjang sembilan bulan ini.

Laporan arus kas menunjukkan kas neto dari aktivitas operasi relatif stagnan di Rp311,44 miliar, hampir sama dengan Rp311,54 miliar pada periode yang sama tahun lalu, meski laba melonjak jauh lebih tinggi. Aktivitas investasi menyedot kas Rp198,75 miliar, terutama untuk perolehan aset tetap Rp129,96 miliar dan pengembangan tanaman belum menghasilkan Rp33,12 miliar. Aktivitas pendanaan menggunakan kas neto Rp102,33 miliar, mencerminkan kombinasi pelunasan utang bank dan masuknya dana dari utang pihak berelasi tersebut. Posisi kas dan setara kas akhir periode tercatat Rp169,13 miliar, naik dari Rp158,77 miliar di akhir 2025.