PT Tunas Alfin Tbk (TALF), produsen kemasan yang berbasis di Tangerang, melaporkan laporan keuangan interim untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026. Penjualan neto perusahaan naik menjadi Rp1,15 triliun dari Rp1,06 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Laba kotor melonjak dari Rp110,7 miliar menjadi Rp141,4 miliar, sementara laba usaha naik dari Rp56,8 miliar menjadi Rp81 miliar. Setelah pajak, laba bersih yang bisa diatribusikan kepada pemegang saham induk naik dari Rp29,96 miliar menjadi Rp52,16 miliar, sehingga laba per saham terangkat dari Rp22,14 menjadi Rp38,54.
Dalam surat penjelasan perubahan akun di atas 20 persen yang dikirim ke Bursa Efek Indonesia tertanggal 28 Oktober 2026, manajemen TALF menjelaskan bahwa persediaan naik 30,4 persen dari Rp196,5 miliar menjadi Rp256,3 miliar, terutama karena penambahan bahan baku Rp37,1 miliar dan barang dalam proses Rp21,9 miliar, seiring target perusahaan untuk terus menaikkan volume penjualan hingga akhir tahun. Utang usaha pihak ketiga ikut naik 37,1 persen menjadi Rp281,8 miliar untuk membiayai pembelian bahan baku tersebut, sementara utang bank jangka pendek bertambah 24,5 persen menjadi Rp35,7 miliar setelah entitas anak menarik kredit modal kerja dari Bank BCA. Di sisi lain, tagihan restitusi pajak penghasilan yang tercatat Rp5,9 miliar pada akhir 2025 kini menjadi nihil, setelah perusahaan menerima pengembalian kelebihan bayar pajak dan entitas anak menerima surat ketetapan pajak lebih bayar sebesar Rp879,8 juta pada Maret 2026.
Selama sembilan bulan 2026, TALF membagikan dividen tunai Rp12,83 miliar, naik tiga kali lipat dibanding Rp4,06 miliar pada periode yang sama 2025. Kas dan setara kas perusahaan justru turun 16,2 persen menjadi Rp33,26 miliar dari Rp39,66 miliar, sementara jumlah ekuitas naik tipis menjadi Rp1,37 triliun dari Rp1,33 triliun. Total aset perusahaan tercatat Rp1,96 triliun, dengan anak usaha PT Dharma Anugerah Indah di Surabaya, yang bergerak di bidang percetakan dan perindustrian dengan kepemilikan TALF sebesar 90 persen, menyumbang aset Rp504,26 miliar.
