Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bertemu dengan Presiden dan CEO US-ASEAN Business Council (US-ABC) Brian D. McFeeters di Jakarta, Selasa (27/10), untuk membahas penguatan kemitraan ekonomi Indonesia dan Amerika Serikat. Pertemuan ini membahas bagaimana target pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat diterjemahkan menjadi peluang usaha nyata bagi perusahaan asal AS yang sudah beroperasi di sektor manufaktur, teknologi digital, kesehatan, produk konsumen, dan kedirgantaraan.

Berdasarkan data yang disampaikan Kemenko Perekonomian, nilai perdagangan Indonesia dan Amerika Serikat pada Januari hingga Agustus 2026 mencapai US$32,34 miliar, tumbuh 11,82 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dengan angka itu, Amerika Serikat menjadi tujuan ekspor terbesar kedua bagi Indonesia. Di sisi investasi, penanaman modal AS pada tiga kuartal pertama 2026 tercatat US$3,4 miliar, naik dibandingkan sekitar US$3 miliar sepanjang 2025, sehingga AS kini menjadi investor asing terbesar keempat di Indonesia.

Airlangga menyampaikan bahwa pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 8 persen pada 2029 melalui delapan strategi, antara lain swasembada pangan, industrialisasi berorientasi ekspor, ekonomi hijau dan biru, transformasi digital, serta peningkatan investasi dan belanja pemerintah yang produktif. Pemerintah membuka peluang investasi AS di sektor manufaktur, teknologi digital, kecerdasan buatan, dan energi, termasuk sektor semikonduktor yang menurut proyeksi pemerintah pasarnya akan tumbuh dari US$5,08 miliar pada 2025 menjadi US$7,07 miliar pada 2030.

Dalam pertemuan itu, Airlangga juga menyinggung sejumlah isu dagang yang masih dibahas kedua negara, termasuk aturan Section 301 dan persoalan excess capacity atau kelebihan kapasitas produksi yang dinilai mengganggu pasar. Ia menyebut potensi kesepakatan dagang senilai sekitar US$33 miliar yang diharapkan dapat mendukung penciptaan lapangan kerja dan penguatan rantai pasok antara kedua negara, sementara pemerintah juga membuka ruang bagi perusahaan AS untuk menyampaikan kendala usaha yang mereka hadapi di Indonesia.