Dolar Amerika Serikat menguat terhadap mata uang-mata uang Asia pada awal pekan, sementara yen Jepang kembali mendekati level psikologis 160 per dolar. Pergerakan ini penting bagi pembaca karena ikut menentukan harga barang impor, termasuk bahan baku industri di kawasan Asia yang banyak dibeli dengan dolar. Pemicunya adalah sinyal bunga acuan Amerika Serikat yang berpotensi naik lagi bulan depan, ditambah harga minyak dunia yang melonjak akibat memanasnya konflik Amerika Serikat dan Iran.
Ketua Federal Reserve Kevin Warsh melontarkan pernyataan yang condong ke arah pengetatan kebijakan, sehingga pasar kini menilai peluang kenaikan suku bunga Amerika Serikat sebesar 0,25 persen pada September naik menjadi sekitar 57 persen. Sejalan dengan itu, bunga surat utang pemerintah Amerika Serikat bertenor dua tahun naik ke 4,33 persen, level tertinggi dalam lebih dari sebulan, tanda investor memperkirakan bunga tinggi akan bertahan lebih lama. Indeks Dolar AS, ukuran kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama dunia, berada di sekitar 99,60 setelah menguat 0,6 persen pada Jumat pekan lalu.
Sorotan terbesar jatuh pada yen Jepang, yang diperdagangkan di sekitar 159,83 per dolar, sangat dekat dengan level 160 yang sempat ditembus pada Jumat. Level ini menjadi perhatian karena jika yen melemah lebih jauh, otoritas Jepang dinilai berpotensi kembali turun tangan membeli yen di pasar untuk menahan pelemahannya, seperti yang pernah dilakukan bersama Amerika Serikat pada akhir Juli. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebut pergerakan yen saat ini masih cukup terkendali dan berencana bertemu Gubernur Bank of Japan Kazuo Ueda dalam pertemuan G20 di North Carolina.
Eskalasi konflik Amerika Serikat dan Iran turut mendorong harga minyak dunia naik, memperkuat kecenderungan investor menghindari aset berisiko di pasar Asia. Kombinasi kenaikan harga minyak dan penguatan dolar ini menambah tekanan bagi mata uang regional yang sejak awal pekan sudah bergerak beragam.
