Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri bertemu Wakil Menteri Pertanian Cili Francesco Venezian di Jakarta pada Jumat, 28 Agustus 2026, untuk membahas perluasan perdagangan kedua negara. Fokus pembicaraan adalah akses pasar yang berjalan dua arah: Indonesia ingin produk unggulannya seperti kakao, kopi, alas kaki, dan otomotif lebih mudah masuk ke Cili, sementara Cili mendorong agar produk pertanian dan pangannya, termasuk daging sapi dan susu, mendapat akses lebih besar ke Indonesia. Arah pembicaraan ini penting karena menyangkut siapa yang diuntungkan lebih dulu dari perjanjian dagang yang sudah berjalan hampir enam tahun ini.
Pemanfaatan perjanjian dagang Indonesia-Cili (IC-CEPA) tercatat menyumbang 75,7 persen dari total ekspor Indonesia ke Cili pada 2025. Nilai pemanfaatan Surat Keterangan Asal, dokumen yang membuktikan barang berhak mendapat tarif nol persen, mencapai US$334,14 juta, naik 21,36 persen dari US$275,39 juta pada 2024. Produk yang paling banyak memakai fasilitas ini adalah kendaraan bermotor, alas kaki, pupuk, serta kertas dan karton. Contoh konkretnya, PT Mandala Prima Makmur berhasil mengekspor bubuk kakao ke perusahaan Cili Alimentos 4M SpA lewat program UMKM BISA Ekspor, dan tengah menjajaki transaksi baru dengan E-Cibo SpA senilai sekitar US$739.030 pada 2026.
Nilai barang yang dibeli Indonesia dari luar negeri. Naik 0,19 miliar US$ dibanding Juni 2026. Tertinggi dalam 31 bulan yang tercatat. Posisinya di atas rata-rata 12 bulan terakhir (21.914,1).
Sumber: Badan Pusat Statistik, Nilai Impor. Diolah The Signal.
Dari sisi Cili, pemerintahnya mendorong percepatan akses pasar untuk daging sapi dan produk susu ke Indonesia, sembari berkomitmen memenuhi syarat sertifikasi halal. Produk anggur segar Cili sudah lebih dulu menikmati tarif nol persen lewat IC-CEPA, dengan nilai impor Indonesia mencapai US$6,97 juta atau 1.887 ton pada 2025. Sebaliknya, Cili menyatakan pasarnya terbuka bagi tanaman hias asal Indonesia. Kedua pihak juga menyinggung potensi kerja sama di luar dagang, seperti penanganan kebakaran hutan dan pengembangan varietas tanaman yang tahan perubahan iklim.
Total perdagangan Indonesia-Cili pada 2025 mencapai US$534,9 juta, naik 12,26 persen dari tahun sebelumnya, dengan ekspor Indonesia US$440,8 juta dan impor US$94 juta sehingga Indonesia mencatat surplus US$346,8 juta. Sepanjang Januari-Juni 2026, total perdagangan sudah mencapai US$277,4 juta dengan surplus US$162,2 juta bagi Indonesia. Agenda lanjutan yang disepakati meliputi INA-LAC Business Mission di Santiago pada 1-2 Oktober 2026, Trade Expo Indonesia ke-41 di Tangerang pada 14-18 Oktober 2026, serta usulan pertemuan reviu kedua IC-CEPA di Santiago.
