Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri mendorong Indonesia dan Maroko mempercepat perundingan perjanjian dagang bilateral yang sempat terhenti, dengan target penyelesaian menyeluruh pada 2027. Hal ini disampaikan dalam pertemuan daring dengan Wakil Menteri Luar Negeri Bidang Perdagangan Luar Negeri Maroko, Omar Hejira, pada Kamis (27/8). Kesepakatan ini penting karena akan menentukan kepastian akses pasar dan aturan main bagi eksportir kedua negara.
Kerangka kerja yang disepakati mencakup penyusunan jadwal perundingan yang lebih realistis, kelanjutan negosiasi berdasarkan draf naskah yang sudah ada, serta penetapan target akses pasar yang seimbang bagi kedua pihak. Pihak Maroko mengusulkan pembentukan semacam gugus tugas bersama untuk mengawal pelaksanaan kesepakatan dan mempercepat tindak lanjut perundingan. Wamendag Roro juga mengundang pemerintah dan pelaku usaha Maroko untuk hadir dalam Trade Expo Indonesia 2026 yang berlangsung 14-18 Oktober di ICE BSD City, Tangerang.
Kementerian Perdagangan menyebut sejumlah komoditas Indonesia yang berpotensi besar tapi belum banyak terserap pasar Maroko, yaitu amonia anhidrat, minyak sawit mentah dan olahannya, besi dan baja setengah jadi, serta udang beku. Sebaliknya, Maroko menjadi salah satu pemasok penting pupuk dan alumunium bagi Indonesia. Kedua negara juga saling memosisikan diri sebagai pintu masuk ke kawasan masing-masing, Maroko ke pasar Afrika dan Eropa, Indonesia ke pasar ASEAN dan Indo-Pasifik.
Nilai perdagangan Indonesia-Maroko tercatat US$235 juta pada 2025, naik 33 persen dari tahun sebelumnya, dan berlanjut tumbuh 37 persen secara tahunan pada Januari-Mei 2026 menjadi US$180 juta. Ekspor Indonesia ke Maroko pada 2025 mencapai US$154,9 juta, didominasi kopi, ban pneumatik baru, lemak dan minyak nabati atau hewani, margarin dan olahan makanan, serta batu bara. Impor dari Maroko sebesar US$80,1 juta, terutama berupa pupuk mineral atau kimia, pupuk fosfat, alumunium mentah, dan pakaian wanita. Sepanjang 2021-2025, tren ekspor Indonesia ke Maroko tumbuh rata-rata 4,95 persen per tahun, dengan Maroko berada di posisi ke-74 sebagai tujuan ekspor Indonesia.
