Komisi IV DPR RI memberikan apresiasi kepada Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam rapat kerja, Selasa (1/9), atas klaim pemerintah bahwa Indonesia telah mencapai swasembada delapan komoditas pangan strategis. Klaim ini menegaskan pernyataan Presiden Prabowo Subianto dalam pidato kenegaraan di depan Sidang Tahunan MPR pertengahan Agustus lalu, yang menyebut capaian tersebut terjadi lebih cepat dari target awal pemerintah.

Berdasarkan neraca pangan 2026 yang menjadi rujukan klaim tersebut, produksi beras diproyeksikan mencapai 34,77 juta ton, di atas kebutuhan nasional sebesar 31,10 juta ton. Jagung diproyeksikan berproduksi 18 juta ton berbanding kebutuhan 16,44 juta ton, sementara gula konsumsi diproyeksikan 3,04 juta ton berbanding kebutuhan 2,84 juta ton. Di sektor peternakan, produksi daging ayam ras diperkirakan 4,90 juta ton dengan kebutuhan sekitar 4,02 juta ton, dan telur ayam ras diproyeksikan 6,99 juta ton berbanding kebutuhan 6,47 juta ton.

Kelompok hortikultura juga tercatat surplus menurut proyeksi yang sama. Produksi cabai besar diperkirakan mencapai 1,52 juta ton, jauh di atas kebutuhan 929 ribu ton, sedangkan cabai rawit diproyeksikan 1,51 juta ton berbanding kebutuhan 914 ribu ton. Bawang merah diproyeksikan berproduksi 1,32 juta ton, sedikit di atas kebutuhan nasional yang berkisar 1,25 juta ton. Secara total, produksi delapan komoditas tersebut diproyeksikan mencapai 72,91 juta ton, sementara kebutuhan nasional sekitar 68,22 juta ton, sehingga tercatat surplus sekitar 4,69 juta ton.

Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi, yang akrab disapa Titiek Soeharto, menyampaikan apresiasi itu dalam rapat kerja bersama Kementerian Pertanian. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman membalas dengan menyebut capaian tersebut sebagai hasil kerja bersama pemerintah pusat, DPR, pemerintah daerah, petani, dan penyuluh pertanian, dan menyebut delapan dari sebelas komoditas pangan strategis yang dipantau kini berstatus swasembada menurut catatan Kementerian Pertanian.