PT Dharma Samudera Fishing Industries Tbk (DSFI) menyampaikan koreksi atas laporan keuangan interim untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026, yang tidak diaudit. Surat pernyataan direksi atas laporan ini ditandatangani pada 30 Oktober 2026 oleh Direktur Utama Ewijaya dan Direktur Cynthia Handyoko. Bersamaan dengan laporan ini, perusahaan juga mengirim surat penjelasan kepada Bursa Efek Indonesia karena total aset dan total liabilitasnya berubah lebih dari 20 persen dibandingkan akhir tahun 2025, sebagaimana diwajibkan Peraturan BEI Nomor I-E.

Total aset DSFI tercatat Rp527,58 miliar per 30 September 2026, naik Rp87,43 miliar atau 20 persen dari Rp440,15 miliar pada akhir 2025. Kenaikan ini terutama berasal dari kas dan setara kas yang melonjak ke Rp102,98 miliar dari Rp31,66 miliar, serta piutang usaha pihak ketiga yang naik ke Rp142,45 miliar dari Rp91,23 miliar seiring pertumbuhan penjualan. Di sisi liabilitas, total utang perusahaan naik Rp67,39 miliar atau 44 persen menjadi Rp221,01 miliar, didominasi kenaikan utang bank jangka pendek untuk modal kerja dari Rp81,89 miliar menjadi Rp123,32 miliar, serta utang usaha pihak ketiga yang naik dari Rp36,93 miliar menjadi Rp61,43 miliar.

Dari sisi laba rugi, penjualan DSFI pada sembilan bulan pertama 2026 mencapai Rp572,68 miliar, naik dari Rp489,08 miliar pada periode yang sama tahun 2025. Laba kotor naik menjadi Rp94,20 miliar dari Rp72,51 miliar, laba usaha menjadi Rp29,44 miliar dari Rp20,72 miliar, dan laba bersih periode berjalan menjadi Rp20,04 miliar dari Rp13,25 miliar, naik 51 persen. Laba per saham dasar naik dari Rp7,13 menjadi Rp10,79. Saldo laba ditahan yang sebelumnya defisit Rp17,83 miliar per akhir 2025 kini berbalik menjadi positif Rp2,21 miliar, sehingga jumlah ekuitas perusahaan naik menjadi Rp306,58 miliar dari Rp286,53 miliar.

Dalam surat penjelasannya ke BEI, manajemen menyebut kenaikan liabilitas terjadi dalam kegiatan usaha normal, akibat perbedaan waktu antara penerimaan dari pelanggan dan pembayaran fasilitas pinjaman bank yang menyebabkan akumulasi saldo kas. Berdasarkan kinerja sembilan bulan ini, manajemen menyatakan mengantisipasi pertumbuhan kinerja keuangan yang positif untuk tahun buku 2026 dibandingkan 2025.