PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) menerbitkan perubahan dan tambahan atas keterbukaan informasi tanggal 30 September 2026 mengenai rencana penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) ketiga. Dalam dokumen bertanggal 4 November 2026 ini, Garuda melaporkan bahwa seluruh rangkaian peralihan saham PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI) sudah tuntas, berdasarkan dua akta pemindahan hak atas saham yang dibuat pada 2 November 2026 di hadapan notaris Desman, S.H., M.H. di Jakarta Utara.
Saham yang beralih adalah 82.100.173.900 saham Seri B GMFI, setara 65,77 persen dari modal ditempatkan dan disetor GMFI. Saham ini awalnya dibagikan PT Angkasa Pura Indonesia (API) sebagai dividen non tunai senilai Rp5,66 triliun kepada PT Aviasi Pariwisata Indonesia (InJourney), sesuai persetujuan RUPS API pada 26 Juni 2026. InJourney kemudian meneruskan saham itu kepada PT Danantara Asset Management (DAM) juga lewat dividen non tunai, sesuai persetujuan RUPS InJourney pada 29 Juni 2026. Dengan rampungnya kedua akta pada 2 November 2026, DAM kini resmi tercatat sebagai pemilik saham GMFI tersebut.
Langkah ini menjadi dasar bagi tahap berikutnya: dalam rencana penambahan modal Garuda, DAM berniat melaksanakan haknya bukan dengan uang tunai, melainkan dengan menyetorkan saham GMFI yang baru diperolehnya itu sebagai modal (disebut Rencana Inbreng), sementara pemegang HMETD lain tetap menyetor secara tunai. Karena DAM adalah pemegang saham utama Garuda, transaksi ini pada dasarnya tergolong transaksi afiliasi. Namun Garuda dikecualikan dari kewajiban tambahan terkait transaksi afiliasi karena skema ini merupakan bagian dari rencana restrukturisasi keuangan 2025-2029 yang telah disetujui Menteri BUMN dan dijalankan melalui penawaran umum, sehingga hanya tunduk pada aturan OJK soal penambahan modal dengan HMETD. Garuda tetap wajib menunjuk penilai independen untuk menentukan nilai wajar saham GMFI yang disetor DAM dan menyusun opini kewajaran atas transaksi ini.
Dokumen juga memuat struktur permodalan Garuda terbaru: dari total 407,09 miliar saham yang beredar, DAM menguasai 91,11 persen gabungan dari saham Seri B, C, dan D, Negara Republik Indonesia memegang 0,92 persen lewat satu saham Seri A Dwiwarna, dan publik memegang 7,97 persen. Sejumlah direksi dan komisaris tercatat memiliki saham dalam jumlah kecil, antara lain Komisaris Chairal Tanjung dengan 6.424.259 saham Seri C serta Direktur Operasi Eric Ferdinand Sofyal dengan kombinasi saham Seri B dan C, namun ini sekadar data kepemilikan dalam daftar pemegang saham, bukan transaksi jual beli baru.
