PT Duta Pertiwi Tbk (DUTI) mencatat laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp482,8 miliar untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026, melonjak 149,5 persen dari Rp193,5 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Kenaikan ini ditopang oleh pendapatan usaha yang naik 26,4 persen menjadi Rp2,14 triliun dari Rp1,70 triliun, serta laba usaha yang hampir dua kali lipat menjadi Rp612,1 miliar dari Rp310,8 miliar. Laba per saham dasar turut terangkat dari Rp104,60 menjadi Rp260,96, sementara rasio imbal hasil ekuitas (ROE) perusahaan naik dari 1,82 persen menjadi 4,63 persen dan imbal hasil aset (ROA) dari 1,21 persen menjadi 2,99 persen.
Di sisi lain, perusahaan membagikan dividen sebesar Rp888 miliar kepada pemegang saham entitas induk dan Rp200,1 miliar kepada pemegang saham nonpengendali anak usaha, dengan total sekitar Rp1,09 triliun selama sembilan bulan pertama 2026. Pembayaran dividen ini menjadi salah satu penyebab kas dan setara kas Duta Pertiwi turun 24,5 persen menjadi Rp2,67 triliun dari Rp3,53 triliun pada akhir 2025, serta ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun 3,7 persen menjadi Rp10,44 triliun dari Rp10,83 triliun. Beban bunga perusahaan juga naik 22,1 persen menjadi Rp92,6 miliar dari Rp75,8 miliar, sejalan dengan kenaikan skala operasi.
Dari sisi liabilitas, total liabilitas Duta Pertiwi naik 18,5 persen menjadi Rp2,92 triliun, terutama didorong oleh liabilitas kontrak jangka pendek atau uang muka dari pembeli unit properti yang melonjak menjadi Rp1,72 triliun dari Rp1,23 triliun, mengindikasikan penjualan unit baru yang lebih tinggi dan menunggu pengakuan sebagai pendapatan pada periode berikutnya. Nilai tanah yang belum dikembangkan, yang menjadi cadangan lahan untuk proyek ke depan, juga bertambah 11 persen menjadi Rp5,34 triliun dari Rp4,81 triliun. Rasio lancar perusahaan tercatat 310,2 persen per September 2026, turun dari 383,7 persen pada periode yang sama tahun lalu, namun masih jauh di atas standar aman likuiditas jangka pendek. Laporan keuangan interim kuartal III 2026 ini disampaikan ke OJK dan Bursa Efek Indonesia pada 30 Oktober 2026 dan belum diaudit.
