Perekonomian Jawa Timur tumbuh 5,72 persen secara tahunan pada triwulan II 2026, angka yang membuat provinsi ini mencatat laju pertumbuhan tertinggi di Pulau Jawa untuk semester pertama tahun ini, yakni 5,84 persen. Capaian ini penting karena menunjukkan mesin ekonomi daerah masih berjalan kencang, tapi di balik angka pertumbuhan itu neraca dagang Jawa Timur justru melebar jadi defisit, tanda bahwa kinerja ke luar negeri belum seimbang dengan derasnya permintaan dalam negeri.
Data ini dipaparkan dalam konferensi pers ALCo APBN KiTA Regional Jawa Timur di Surabaya, Selasa (27/10/2026). Sektor industri pengolahan menjadi penopang utama dengan kontribusi 31,11 persen terhadap ekonomi daerah dan tumbuh 6,05 persen secara tahunan, sementara dari sisi pengeluaran, belanja rumah tangga menyumbang 60,85 persen dari total perekonomian. Hingga September 2026, penerimaan negara di Jawa Timur tercatat Rp188,13 triliun, jauh di atas belanja negara yang sebesar Rp92,53 triliun.
Nilai barang yang dijual Indonesia ke luar negeri. Naik 0,40 miliar US$ dibanding Juli 2026. Naik 3 periode beruntun. Tertinggi dalam 32 bulan yang tercatat.
Sumber: Badan Pusat Statistik, Nilai Ekspor. Diolah The Signal.
Defisit neraca dagang Jawa Timur mencapai US$3,52 miliar sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Nilai ekspor tercatat US$18,61 miliar, turun 4,91 persen dibanding periode yang sama tahun lalu, sementara impor justru naik 15,49 persen menjadi US$22,13 miliar. Local Expert Kementerian Keuangan Provinsi Jawa Timur, Ilmiawan Auwalin, menyebut kondisi ekonomi daerah masih menunjukkan ketahanan meski dihadapkan pada berbagai tantangan, dengan APBN berperan menjaga momentum pertumbuhan sekaligus stabilitas harga.
Dari sisi harga, inflasi Jawa Timur pada September 2026 tercatat 3,33 persen secara tahunan, dengan tekanan utama dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau, transportasi, serta perawatan pribadi. Komoditas penyumbang inflasi antara lain cabai rawit, daging ayam ras, bensin, angkutan udara, dan emas perhiasan. Sejumlah indikator kesejahteraan justru membaik, Nilai Tukar Petani naik ke 121,07 dan Nilai Tukar Nelayan ke 105,56 pada September 2026, tingkat pengangguran terbuka turun ke 3,42 persen pada Mei 2026, dan angka kemiskinan tercatat 9,06 persen pada Maret 2026.
