Pemerintah menegaskan daya beli masyarakat Indonesia masih terjaga di tengah ketidakpastian ekonomi global, dengan mengutip data Badan Pusat Statistik yang menunjukkan konsumsi rumah tangga pada kuartal II 2026 tumbuh di atas 5 persen. Angka ini penting karena konsumsi rumah tangga adalah penyumbang terbesar produk domestik bruto Indonesia, sehingga pertumbuhannya menjadi penanda apakah mesin penggerak utama ekonomi nasional masih sehat.

Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo menjelaskan bahwa di balik angka itu ada pergeseran pola belanja, dari toko fisik dan pusat perbelanjaan ke platform daring. Menurutnya, mal kini lebih banyak difungsikan sebagai tempat wisata dan restoran ketimbang pusat belanja barang, seiring konsumen beralih ke e-commerce. Pada semester I 2026, tercatat 17 provinsi tumbuh di atas rata-rata nasional, yang menurut pemerintah menandakan sumber pertumbuhan ekonomi kini lebih menyebar, termasuk dari sektor pariwisata daerah.

Di sisi kebijakan, pemerintah menyebut pengendalian inflasi tetap menjadi perhatian, terutama tekanan harga yang berasal dari gangguan pasokan komoditas, lewat koordinasi antarlembaga untuk menjaga ketersediaan barang dan kepastian pasar bagi petani. Pemerintah juga mengklaim sedang memperbarui data penerima bantuan sosial agar bantuan lebih tepat sasaran, serta memperkuat aturan tata kelola di pasar modal bersama otoritas terkait untuk menjaga kepercayaan investor.

Soal lapangan kerja, pemerintah menyatakan terus mendorong investasi dan iklim usaha agar terbuka lebih banyak peluang kerja bagi lulusan baru dan angkatan kerja usia produktif, sembari mengklaim telah memperkuat proteksi bagi pekerja melalui sejumlah kebijakan terbaru. Pernyataan ini disampaikan Dradjad dalam tayangan televisi, sekaligus meminta publik tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang menurutnya tidak berbasis data.