PT Data Sinergitama Jaya Tbk (ELIT) menyampaikan laporan keuangan interim tidak diaudit untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026. Pendapatan perseroan turun menjadi Rp264,36 miliar dari Rp352,69 miliar pada periode yang sama tahun lalu, atau merosot sekitar 25 persen. Meski begitu, laba bersih relatif bertahan di Rp26,19 miliar, hampir sama dengan Rp26,01 miliar pada sembilan bulan pertama 2025, karena beban pokok pendapatan dan beban operasional ikut turun lebih dalam dibanding pendapatan. Laba per saham dasar bahkan naik tipis menjadi Rp17,33 dari Rp17,15.

Total aset perseroan naik Rp71,47 miliar atau 24,09 persen menjadi Rp368,18 miliar per akhir September 2026, terutama didorong aset tetap yang melonjak 112,28 persen menjadi Rp176,96 miliar dari Rp83,36 miliar akibat pembelian infrastruktur data center dan server baru untuk ekspansi kapasitas layanan. Sebagian pembiayaan ini berasal dari utang bank baru: perseroan menarik fasilitas pembiayaan investasi yang menambah utang bank jangka panjang Rp39,32 miliar dan porsi jatuh tempo dalam satu tahun Rp9,60 miliar, sehingga total liabilitas naik Rp42,52 miliar atau 30,67 persen menjadi Rp181,17 miliar. Di sisi lain, piutang usaha turun Rp17,32 miliar atau 20,51 persen karena pelanggan melunasi tagihan, sementara utang bank jangka pendek lama berkurang Rp12,40 miliar karena dilunasi.

Ekuitas perseroan naik menjadi Rp187,01 miliar dari Rp158,06 miliar, ditopang penambahan laba ditahan. Perseroan juga melaporkan dua entitas anak: Elitery Global Technology Sdn Bhd di Malaysia yang dimiliki penuh seratus persen dengan aset Rp57,54 miliar, serta PT Elite Teknologi di Jakarta dengan kepemilikan 22,5 persen. Laporan ini ditandatangani Direktur Utama Kresna Adiprawira dan Direktur Erwin Damar Prasetyo pada 23 Oktober 2026, dan perseroan menyatakan tidak ada dampak material dari perubahan-perubahan tersebut terhadap kinerja keuangan periode berjalan.