PT Elnusa Tbk menyampaikan laporan keuangan konsolidasian interim yang tidak diaudit untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026. Pendapatan perusahaan tercatat Rp12,13 triliun, naik dari Rp10,48 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Laba bersih periode berjalan naik dari Rp526,56 miliar menjadi Rp681,55 miliar, sehingga laba per saham terangkat dari Rp72,15 menjadi Rp93,38 per saham.

Dari sisi posisi keuangan, total aset Elnusa per akhir September 2026 mencapai Rp11,77 triliun, naik dari Rp10,96 triliun pada akhir Desember 2025. Total liabilitas naik menjadi Rp6,11 triliun dari Rp5,65 triliun, sementara total ekuitas bertambah menjadi Rp5,67 triliun dari Rp5,31 triliun. Namun kas dan setara kas perusahaan justru berkurang dari Rp2,70 triliun menjadi Rp2,13 triliun, sementara piutang usaha dari pihak berelasi melonjak 44,8 persen, dari Rp3,42 triliun menjadi Rp4,95 triliun. Selama periode ini Elnusa juga membayar dividen kas Rp323,25 miliar dan untuk pertama kalinya melakukan pembelian saham treasuri senilai Rp4,47 miliar.

Dalam surat terpisah ke Bursa Efek Indonesia, Direktur Utama Elnusa, Litta Indriya Ariesca, menjelaskan bahwa kenaikan aset sebesar 7,41 persen atau Rp812,4 miliar dan kenaikan liabilitas sebesar 8,12 persen atau Rp458,6 miliar tersebut masih di bawah ambang batas 20 persen yang mewajibkan penjelasan rinci ke bursa sesuai Peraturan BEI Nomor I-E, sehingga Elnusa tidak wajib memberi rincian tambahan. Laporan ini juga mencatat delapan entitas anak yang dikonsolidasikan, dengan salah satunya, PT Elnusa Oil Services, baru mulai beroperasi secara komersial pada 2026.