PT Elnusa Tbk (ELSA) melaporkan hasil public expose tahunan kepada Bursa Efek Indonesia pada 10 September 2026. Acara berlangsung Senin, 7 September 2026 pukul 15.00 sampai 16.00 WIB secara virtual lewat Zoom Webinar dan kanal Youtube IDX, dihadiri 142 peserta di luar jajaran manajemen dan karyawan perseroan. Materi disampaikan oleh Direktur Keuangan Nelwin Aldriansyah, Direktur Operasi Andri Haribowo, dan VP Finance & Treasury Hanny Retno Hapsari.

Untuk semester I 2026, Elnusa membukukan pendapatan Rp7,58 triliun, naik 8,9 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. EBITDA tercatat Rp862 miliar, tumbuh 16,2 persen, sementara laba bersih melonjak 29,2 persen menjadi Rp435 miliar dengan margin laba bersih 5,73 persen. Total aset perseroan mencapai Rp11,4 triliun dan ekuitas Rp5,43 triliun, dengan arus kas dari operasi Rp761 miliar serta saldo kas Rp2,88 triliun. Dari tiga segmen usaha, segmen Penjualan Barang serta Distribusi dan Logistik Energi menjadi penyumbang terbesar dengan pendapatan Rp4,92 triliun dan laba bersih Rp293 miliar, tumbuh masing-masing 26,6 persen dan 54,4 persen secara tahunan. Segmen Jasa Hulu Migas Terintegrasi mencatat pendapatan Rp2,06 triliun dengan laba bersih Rp99 miliar, turun dari periode sebelumnya, sedangkan segmen Jasa Pendukung Hulu Migas membukukan pendapatan Rp610 miliar dan laba bersih Rp41,8 miliar. Perseroan menutup semester dengan kontrak berjalan (carry forward contract) senilai Rp18,8 triliun, setelah memperoleh kontrak baru Rp11,6 triliun sepanjang enam bulan pertama, terbesar dari segmen Distribusi dan Logistik Energi sebesar Rp9 triliun. Belanja modal 2026 dianggarkan Rp602 miliar dan baru terealisasi sekitar 35 persen hingga Juni.

Dalam sesi tanya jawab, investor bernama Daniel mempertanyakan mengapa laba bersih tumbuh 29,2 persen jauh di atas pertumbuhan pendapatan 8,9 persen, sementara 78 persen pendapatan berasal dari pelanggan afiliasi Pertamina Group. Manajemen menjawab kenaikan laba terutama berasal dari efisiensi operasional dan pendukung operasional, ditambah untung selisih kurs, dan menegaskan kewajaran harga transaksi dengan afiliasi selalu direview konsultan independen. Investor yang sama juga menanyakan pergeseran belanja modal dari segmen hulu ke distribusi dan logistik, yang menurut manajemen bertujuan menyeimbangkan portofolio, serta kepatuhan sanksi internasional terkait operasi di Algeria, Libya, Irak, dan Myanmar di bawah struktur kepemilikan Danantara, yang dijawab manajemen dengan proses risk assessment, legal review, due diligence, dan compliance review pada setiap peluang bisnis internasional.