PT Megalestari Epack Sentosaraya Tbk (EPAC) menyampaikan tanggapan resmi kepada Bursa Efek Indonesia atas surat permintaan penjelasan dan pengingat bernomor S-12651/BEI.PP3/10-2026 tertanggal 2 Oktober 2026, terkait rencana penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD I) atau rights issue. Tanggapan yang diteken Direktur Keuangan Nicky Gunhadi pada 6 Oktober 2026 itu menegaskan bahwa perseroan tidak berencana menerbitkan waran atau efek lain bersamaan dengan rights issue ini, selain saham baru hasil pelaksanaan HMETD. Rencana pembelian kembali saham (buyback) yang sebelumnya diungkapkan disebut sebagai aksi korporasi terpisah dan tidak akan memakai dana hasil rights issue.
EPAC mengasumsikan penerbitan 2.000.000.000 saham baru dengan nilai nominal Rp50 per saham. Jika asumsi itu terealisasi, total saham beredar perseroan naik dari 3.303.400.000 lembar menjadi 5.303.400.000 lembar, atau modal disetor bertambah dari Rp165,17 miliar menjadi Rp265,17 miliar. Dalam skenario itu, kepemilikan PT Omni Multi Industrindo turun dari 24,22 persen menjadi 15,08 persen, PT Triple Berkah Bersama dari 38,84 persen menjadi 24,19 persen, dan publik dari 36,94 persen menjadi 23,01 persen. Namun EPAC juga memaparkan dua skenario pelaksanaan lain: jika seluruh pemegang saham lama mengambil haknya secara proporsional, persentase kepemilikan mereka kembali ke posisi semula. Sebaliknya, jika hanya PT Triple Berkah Bersama selaku pemegang saham utama yang mengeksekusi haknya sementara yang lain tidak, kepemilikannya bisa melonjak menjadi 61,91 persen, sedangkan Omni Multi Industrindo tetap 15,08 persen dan publik tergerus ke 23,01 persen.
EPAC mengungkapkan bahwa rasio HMETD dan harga pelaksanaan belum ditetapkan, dan akan diumumkan dalam prospektus dengan mempertimbangkan struktur permodalan, persetujuan RUPSLB, kondisi pasar, serta ketentuan OJK dan Bursa. Dana hasil rights issue direncanakan untuk belanja modal pengembangan usaha, pembayaran sebagian utang, dan modal kerja seperti pembelian bahan baku serta pembiayaan produksi dan distribusi, meski rincian persentase alokasinya belum ditentukan. Perseroan menyebut belum memiliki pembeli siaga untuk menyerap saham yang tidak diambil pemegang saham lain, dan menegaskan tidak ada pembatasan dari kreditur atau perjanjian yang dapat menghambat rencana ini. EPAC akan menggunakan laporan keuangan per 30 September 2026 sebagai basis prospektus, dan memastikan tidak ada rencana penerbitan efek bersifat ekuitas lain dalam 12 bulan setelah rights issue ini efektif.
