PT Alfa Energi Investama Tbk (FIRE), emiten distribusi batu bara, menyampaikan laporan keuangan interim yang tidak diaudit untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026. Pendapatan bersih Perseroan turun menjadi Rp218,20 miliar dari Rp230,39 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Meski beban pokok pendapatan naik dari Rp176,67 miliar menjadi Rp189,79 miliar sehingga laba bruto tergerus dari Rp53,72 miliar menjadi Rp28,41 miliar, Perseroan berhasil membalik posisi laba bersihnya. Setelah memangkas beban penjualan dari Rp23,65 miliar menjadi hanya Rp2,46 miliar, laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat Rp2,43 miliar, berbalik dari rugi Rp8,34 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Laba per saham dasar pun berbalik dari minus Rp5,65 menjadi positif Rp1,65.

Perseroan juga menyampaikan surat penjelasan kepada Bursa Efek Indonesia terkait kenaikan liabilitas yang melebihi 20%. Total liabilitas naik 39,6% dari Rp94,85 miliar per akhir Desember 2025 menjadi Rp132,40 miliar per 30 September 2026, atau bertambah Rp37,55 miliar. Kenaikan itu terutama berasal dari pinjaman bank jangka pendek baru senilai Rp35,06 miliar, yaitu Rp28,11 miliar dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk berupa fasilitas pemanfaatan dana devisa hasil ekspor sumber daya alam, dan Rp6,95 miliar dari PT Bank Central Asia Tbk berupa fasilitas kredit rekening koran dan time loan revolving. Akibatnya, saldo utang bank jangka pendek di laporan posisi keuangan melonjak dari Rp3,19 miliar menjadi Rp38,25 miliar, dan utang usaha pihak ketiga turut naik Rp4,07 miliar dibandingkan akhir 2025.

Di sisi lain, posisi kas Perseroan menyusut tajam dari Rp11,09 miliar pada akhir 2025 menjadi Rp3,37 miliar pada akhir September 2026. Arus kas dari aktivitas operasi masih negatif Rp9,49 miliar, meski membaik dibandingkan negatif Rp24,46 miliar pada periode yang sama tahun lalu, sementara arus kas dari aktivitas investasi tercatat negatif Rp31,74 miliar, terutama karena kenaikan aset keuangan lancar lainnya sebesar Rp27,93 miliar. Kekurangan kas itu ditutup dari arus kas pendanaan yang positif Rp33,38 miliar, didominasi penarikan pinjaman bank jangka pendek. Total aset Perseroan naik menjadi Rp374,77 miliar dari Rp334,66 miliar, dan total ekuitas naik tipis menjadi Rp242,37 miliar dari Rp239,81 miliar.