PT Multi Garam Utama Tbk (FOLK) melaporkan laba bersih konsolidasian Rp17,31 miliar untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026, berbalik dari rugi Rp10,51 miliar pada periode yang sama tahun 2025. Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat Rp18,40 miliar, membuat laba per saham berbalik dari rugi Rp2,10 menjadi laba Rp4,51 per saham. Namun pendapatan usaha hanya naik tipis dari Rp14,06 miliar menjadi Rp14,45 miliar, sementara lonjakan laba terutama berasal dari pos penghasilan lain-lain yang melonjak dari beban Rp1,19 miliar menjadi penghasilan Rp26,67 miliar, yang menurut perseroan berasal dari keuntungan perubahan nilai wajar atas investasi saham di perusahaan tercatat lain.
Total aset perusahaan melonjak 99,44 persen, dari Rp76,21 miliar per akhir Desember 2025 menjadi Rp151,99 miliar per 30 September 2026. Dalam surat resmi ke Bursa Efek Indonesia yang ditandatangani Direktur Utama Danny Sutradewa pada 3 November 2026, perseroan menjelaskan kenaikan ini didorong oleh penambahan investasi saham perusahaan terbuka lewat Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD I) dan pembelian di pasar, kenaikan uang muka investasi, bertambahnya kas, serta konsolidasi persediaan dari akuisisi PT Traya Multi Investama (TMI) yang membuat FOLK kini menguasai 99,96 persen saham TMI. Jumlah saham beredar bertambah dari 3,95 miliar menjadi 4,09 miliar lembar lewat PMTHMETD I tersebut, menambah modal disetor dan agio saham perseroan menjadi total Rp93,86 miliar dari sebelumnya Rp39,86 miliar. Total ekuitas ikut naik lebih dari dua kali lipat, dari Rp66,12 miliar menjadi Rp140,46 miliar, sementara total liabilitas hanya naik dari Rp10,09 miliar menjadi Rp11,52 miliar.
Di sisi arus kas, kas dan setara kas perseroan naik dari Rp1,25 miliar menjadi Rp9,94 miliar. Kas dari aktivitas pendanaan tercatat positif Rp57,40 miliar, terutama dari setoran modal Rp2,86 miliar dan agio saham Rp54,14 miliar hasil PMTHMETD I. Sebaliknya, arus kas dari aktivitas operasi justru negatif Rp8,19 miliar, memburuk dibanding negatif Rp339,54 juta pada periode yang sama tahun lalu, sementara arus kas investasi negatif Rp40,52 miliar akibat pembelian investasi saham senilai Rp68,85 miliar yang sebagian diimbangi penerimaan dari penjualan investasi lain Rp36,59 miliar dan dividen Rp1,25 miliar.
