PT Fuji Finance Indonesia Tbk (FUJI) menyampaikan laporan keuangan interim yang tidak diaudit untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026. Total aset perusahaan tercatat Rp190,07 miliar, naik tipis dari Rp188,90 miliar pada akhir 2025. Total ekuitas naik dari Rp180,99 miliar menjadi Rp185,87 miliar, sementara total kewajiban justru turun tajam dari Rp7,90 miliar menjadi Rp4,19 miliar, atau susut sekitar 47 persen.
Karena penurunan kewajiban itu melebihi 20 persen, Direktur Utama FUJI, Anita Marta, mengirim surat penjelasan kepada Bursa Efek Indonesia tertanggal 27 Oktober 2026. Perusahaan menjelaskan tiga sebab: sebagian pendapatan bunga piutang yang sebelumnya diterima di muka dan dicatat sebagai pendapatan ditangguhkan kini sudah direalisasikan secara akrual, sehingga pos pendapatan ditangguhkan di laporan posisi keuangan anjlok dari Rp2,65 miliar menjadi Rp12,75 juta. Selain itu perusahaan membayar kewajiban pajak tahunan sepanjang tahun berjalan, membuat utang pajak turun dari Rp888,90 juta menjadi Rp215,58 juta, serta ada penyesuaian liabilitas sewa sesuai PSAK 73 yang membuat liabilitas sewa pembiayaan turun dari Rp2,45 miliar menjadi Rp2,05 miliar. Manajemen menyatakan penurunan ini wajar sesuai standar akuntansi yang berlaku.
Di sisi laba rugi, laba bersih sembilan bulan 2026 tercatat Rp4,88 miliar, turun dari Rp6,36 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Penyebab utamanya adalah pendapatan dari pembiayaan konsumen, yang menjadi sumber pendapatan utama perusahaan, anjlok dari Rp8,91 miliar menjadi hanya Rp593,81 juta. Penurunan ini sebagian tertutup oleh munculnya pos pendapatan lainnya senilai Rp6,88 miliar yang sebelumnya nol, serta piutang pembiayaan konsumen kepada pihak berelasi yang baru muncul senilai Rp35,23 miliar. Jumlah karyawan tetap perusahaan bertambah dari 13 menjadi 14 orang.
