Gudang Garam Tbk (GGRM) menyampaikan materi public expose tahunan yang akan digelar 10 September 2026, melalui surat resmi yang ditandatangani Corporate Secretary Heru Budiman. Susunan direksi tidak berubah sejak 2022, tetap dipimpin Presiden Direktur Susilo Wonowidjojo dan Wakil Presiden Direktur Indra Gunawan Wonowidjojo, bersama direktur lain yaitu Heru Budiman, Herry Susianto, Istata Taswin Siddharta, Andik Wahyudi, Hamdhany Halim, Slamet Budiono, dan Sony Sasono Rahmadi. Di jajaran komisaris, perseroan mengangkat satu komisaris baru, Adhi Wibhawa Wonowidjojo, melengkapi Presiden Komisaris Juni Setiawati Wonowidjojo serta Komisaris Independen Frank Willem van Gelder, Gotama Hengdratsonata, dan Hanlim Suprianto.

Dari sisi kinerja keuangan semester I 2026, pendapatan penjualan tercatat Rp41,177 triliun, turun 7,2 persen dari Rp44,369 triliun pada periode sama 2025, seiring volume penjualan yang turun 13,6 persen mengikuti tren pelemahan industri rokok. Namun beban pokok penjualan turun lebih dalam, 13,3 persen menjadi Rp35,192 triliun, sehingga laba kotor justru naik menjadi Rp5,986 triliun dengan margin 14,5 persen, dari sebelumnya Rp3,788 triliun dengan margin 8,5 persen, didorong kenaikan harga jual. Beban operasional turun 33,8 persen menjadi Rp2,262 triliun karena efisiensi belanja pemasaran dan kompensasi karyawan, sementara beban bunga anjlok dari Rp219 miliar menjadi hanya Rp5 miliar seiring pengurangan pinjaman. Hasilnya, laba bersih melonjak dari Rp120 miliar (margin 0,3 persen) menjadi Rp2,976 triliun (margin 7,2 persen).

Neraca per 30 Juni 2026 menunjukkan kas dan setara kas naik 119,7 persen menjadi Rp8,720 triliun dari Rp3,970 triliun setahun sebelumnya, sementara persediaan turun 14,2 persen menjadi Rp31,763 triliun. Total aset tercatat Rp77,787 triliun, turun tipis 2,5 persen. Yang mencolok, seluruh pinjaman bank jangka pendek yang sebesar Rp5,205 triliun pada tahun lalu kini menjadi nol alias lunas, sehingga total liabilitas turun 26,4 persen menjadi Rp13,779 triliun. Ekuitas pemegang saham naik 4,8 persen menjadi Rp64,008 triliun, dan rasio total liabilitas terhadap ekuitas turun dari 30,7 persen menjadi 21,5 persen.

Materi tersebut juga memaparkan tekanan industri: volume penjualan rokok nasional semester I 2026 turun 6,8 persen menjadi 105,1 miliar batang, dengan segmen SKM sebagai yang terbesar mengalami penurunan paling dalam, 10,3 persen, akibat konsumen beralih ke rokok yang tidak memenuhi ketentuan cukai dan daya beli kelompok menengah bawah yang belum pulih. Manajemen mencatat target penerimaan cukai pemerintah pada 2023 hingga 2025 tidak tercapai, dan menyerukan upaya pemberantasan peredaran rokok ilegal tersebut. Perseroan juga menyoroti prospek pertumbuhan ekonomi yang masih tidak pasti akibat inflasi impor, ketegangan geopolitik, dan pelebaran defisit fiskal.