Garuda Indonesia (Persero) Tbk menyampaikan laporan keuangan konsolidasian interim untuk semester I 2026 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Purwanto Susanti dan Surja, dengan partner penanggung jawab Dedy Lesmana. Auditor memberikan opini Wajar Tanpa Modifikasian atau opini bersih, tertanggal 29 September 2026, atas laporan yang mencakup posisi keuangan per 30 Juni 2026 dibandingkan akhir Desember 2025 dan 2024.

Dari sisi kinerja, pendapatan usaha Garuda naik menjadi US$1.795,44 juta pada semester I 2026, dari US$1.548,20 juta pada periode yang sama tahun lalu, didorong oleh penerbangan berjadwal, tidak berjadwal, dan pendapatan lain. Beban usaha ikut naik menjadi US$1.749,95 juta dari US$1.503,99 juta, terutama karena beban operasional penerbangan dan pemeliharaan pesawat yang lebih besar. Setelah memperhitungkan beban keuangan US$222,44 juta yang justru turun dari US$251,59 juta tahun lalu, serta manfaat pajak, Garuda membukukan rugi bersih US$112,96 juta, menyempit dari rugi US$147,05 juta pada semester I 2025. Rugi per saham dasar membaik dari US$0,00162 menjadi US$0,00030 per saham.

Di neraca, total aset Garuda tercatat US$7.375,06 juta per 30 Juni 2026, turun dari US$7.623,15 juta pada akhir 2025, sementara total liabilitas juga turun menjadi US$7.427,21 juta dari US$7.578,71 juta. Kas dan setara kas menyusut cukup signifikan dari US$943,40 juta menjadi US$624,34 juta dalam enam bulan. Akibatnya, total ekuitas perusahaan berbalik menjadi defisiensi modal sebesar minus US$52,15 juta per 30 Juni 2026, setelah sempat positif US$44,44 juta pada akhir 2025, meski jauh membaik dibanding minus US$1.351,90 juta pada akhir 2024.